<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; Kuliah</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/category/kuliah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Acute Miocard Infark (AMI)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2012/01/acute-miocard-infark-ami.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2012/01/acute-miocard-infark-ami.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 07:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[akut]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu morfin]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu nacl]]></category>
		<category><![CDATA[cara pemerian petidin]]></category>
		<category><![CDATA[ckmb adalah]]></category>
		<category><![CDATA[ckmb jantung]]></category>
		<category><![CDATA[definisi ami]]></category>
		<category><![CDATA[definisi ckmb]]></category>
		<category><![CDATA[definisi ima]]></category>
		<category><![CDATA[definisi infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosa banding ima]]></category>
		<category><![CDATA[diet makanan lunak]]></category>
		<category><![CDATA[ekg blog perawat]]></category>
		<category><![CDATA[epidemiologi infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[faktor penyebab infark miokard akut]]></category>
		<category><![CDATA[fatofisiologi scd]]></category>
		<category><![CDATA[gejala jantung membesar]]></category>
		<category><![CDATA[infark]]></category>
		<category><![CDATA[infark artinya]]></category>
		<category><![CDATA[infark myocard acute]]></category>
		<category><![CDATA[inferior jantung]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[kasus pemberian oksigenasi di indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lama kerja heparin]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan miokard infark]]></category>
		<category><![CDATA[ldh dalam darah]]></category>
		<category><![CDATA[ldh infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[maksud miokardium infark]]></category>
		<category><![CDATA[manifestasi klinik infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[mengapa ckmb meningkat pada penderita ami..???]]></category>
		<category><![CDATA[miokard]]></category>
		<category><![CDATA[miokardiak infark]]></category>
		<category><![CDATA[miokardial infark]]></category>
		<category><![CDATA[morfin asma]]></category>
		<category><![CDATA[myocard infark]]></category>
		<category><![CDATA[nilai normal ckmb]]></category>
		<category><![CDATA[obat infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[obat untuk infark jantung]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi ami]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi ulkus diabetik]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologis ami]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian morfin pada kasus infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian oksigen pada infark miokard akut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan infark miocard]]></category>
		<category><![CDATA[penaganan penyakit aritmia]]></category>
		<category><![CDATA[penangan infark miocard acute]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan gagal jantung]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan pertama pada penderita infark miokard]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan syok pada kardiomegali]]></category>
		<category><![CDATA[penanggulangan gejala jantung]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh morfin terhadap miokardiak infark]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian ckmb]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian ckmd]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian cpk]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan morfin pada pasien penyakit jangtung koroner]]></category>
		<category><![CDATA[penggunaan morfin untuk serangan jantung]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit ami]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab ami]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab kardiomegali pada janin]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab timbulnya infark miokard akut]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan untuk penderita akut miokard infark]]></category>
		<category><![CDATA[potensi morfin dibandingkan dengan petidin]]></category>
		<category><![CDATA[prognosis nyeri dada]]></category>
		<category><![CDATA[rasa oksigen infus]]></category>
		<category><![CDATA[skripsi epidemiologi tentang infark miokard akut]]></category>
		<category><![CDATA[trombolitik adalah]]></category>
		<category><![CDATA[waktu pendarahan normal wanita dan pria]]></category>
		<category><![CDATA[www.penderita riwayat jantung ami.com]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[DEFINISI Serangan Jantung (infark miokardial) adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi pembatasan atau pemutusan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan otot jantung (miokardium) mati karena kekurangan oksigen. Proses iskemik miokardium lama yang mengakibatkan kematian (nekrosis) jaringan otot miokardium tiba-tiba. ETIOLOGI Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEFINISI</strong><br />
Serangan Jantung (infark miokardial) adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi pembatasan atau pemutusan aliran darah ke jantung, yang menyebabkan otot jantung (miokardium) mati karena kekurangan oksigen.<br />
Proses iskemik miokardium lama yang mengakibatkan kematian (nekrosis) jaringan otot miokardium tiba-tiba.</p>
<p><strong>ETIOLOGI</strong><br />
Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung. Jika terputusnya atau berkurangnya aliran darah ini berlangsung lebih dari beberapa menit, maka jaringan jantung akan mati.<br />
<span id="more-24"></span><br />
Kemampuan memompa jantung setelah suatu serangan jantung secara langsung berhubungan dengan luas dan lokasi kerusakan jaringan (infark).<br />
Jika lebih dari separuh jaringan jantung mengalami kerusakan, biasanya jantung tidak dapat berfungsi dan kemungkinan terjadi kematian. Bahkan walaupun kerusakannya tidak luas, jantung tidak mampu memompa dengan baik, sehingga terjadi gagal jantung atau syok<br />
Jantung yang mengalami kerusakan bisa membesar, dan sebagian merupakan usaha jantung untuk mengkompensasi kemampuan memompanya yang menurun (karena jantung yang lebih besar akan berdenyut lebih kuat).<br />
Jantung yang membesar juga merupakan gambaran dari kerusakan otot jantungnya sendiri. Pembesaran jantung setelah suatu serangan jantung memberikan prognosis yang lebih buruk.</p>
<p>Penyebab lain dari serangan jantung adalah:<br />
Suatu bekuan dari bagian jantungnya sendiri. Kadang suatu bekuan (embolus) terbentuk di dalam jantung, lalu pecah dan tersangkut di arteri koroner.<br />
Kejang pada arteri koroner yang menyebabkan terhentinya aliran darah. Kejang ini bisa disebabkan oleh obat (seperti kokain) atau karena merokok, tetapi kadang penyebabnya tidak diketahui.</p>
<p><strong>EPIDEMIOLOGI</strong><br />
Kematian mendadak, yang dalam bahasa aslinya disebut sudden cardiac death, didefinisikan sebagai kematian yang tidak terduga atau proses kematian yang terjadi cepat, yaitu dalam waktu 1 wad sejak timbulnya gejala. Sekitar 93 persen SCD adalah suatu kematian aritmik. Artinya, kematian terjadi akibat timbulnya gangguan irama jantung yang menyebabkan kegagalan sirkulasi darah.<br />
Di negara maju seperti Amerika Serikat, kejadian sudden cardiac death (SCD) mencapai 400.000 kasus per tahun. Jumlah ini hampir 50 persen dari seluruh kematian yang terjadi. Keadaan yang sama bisa jadi dialami juga oleh negara kita, khususnya di perkotaan, di mana pola penyakitnya sudah sama dengan pola penyakit negara-negara maju.<br />
SCD dapat terjadi pada orang yang memiliki sakit jantung yang manifes secara klinis maupun pada penyakit jantung yang &#8220;silent&#8221;. Artinya, kematian mendadak dapat terjadi baik pada mereka yang telah diketahui menderita sakit jantung sebelumnya maupun pada mereka yang dianggap sehat-sehat saja selama ini.<br />
Wanita yang pernah mengalami serangan jantung atau infark miokard akut (IMA) memiliki peluang yang sama dengan pria untuk mengalami SCD.<br />
Studi Framingham, suatu landmark studi epidemiologik jangka panjang, menunjukkan bahwa pada penderita dengan riwayat penyakit jantung, pria mempunyai risiko SCD 2-4 kali lipat dibandingkan dengan wanita.<br />
Sementara itu, data yang lebih baru dari Abildstrom dan kawan-kawan yang melakukan studi prospektif selama empat tahun pada 6.000 pasien yang selamat dari IMA menemukan bahwa pria mengalami SCD hanya 1,3 kali lebih sering dibanding wanita. Temuan yang dipublikasikan tahun 2002 itu menunjukkan terjadi peningkatan SCD pada wanita.<br />
Sejumlah besar data menunjukkan bahwa wanita dan dokternya harus memahami bahwa penyakit jantung dan SCD bukan hanya isu kaum adam atau manula saja. Beberapa peneliti dari National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion Amerika Serikat mendapatkan bahwa kejadian kematian mendadak yang disebabkan penyakit jantung yang dialami oleh wanita muda meningkat lebih dari 31 persen selama periode 1989-1996. Padahal, pria hanya mengalami peningkatan sekitar 10 persen selama periode yang sama.<br />
Temuan ini sangat mengejutkan para ahli sehingga secara aktif digali faktor-faktor yang diduga menyebabkan keadaan tersebut. Peningkatan yang bermakna dari frekuensi kejadian diabetes, overweight dan obesitas pada wanita, kecenderungan meningkatnya wanita perokok, dan screening kesehatan serta pengobatan penyakit jantung yang kurang agresif pada wanita dibandingkan pria diduga merupakan faktor-faktor yang turut berperan pada peningkatan SCD pada wanita.<br />
Kemudian, data lain juga menunjukkan bahwa wanita kurang menyadari gejala serangan jantung sehingga terlambat mendapatkan pertolongan. Wanita tidak mendapatkan perawatan yang tepat waktu karena mereka dan dokternya lambat mengambil kesimpulan terhadap suatu gejala penyakit jantung.<br />
Badan epidemiologi nasional di Amerika mendapatkan bahwa proporsi wanita yang mengalami kematian di luar rumah sakit lebih tinggi dari pada pria. Hampir 52 persen wanita yang mengalami SCD terjadi di luar rumah sakit, dibandingkan hanya 42 persen pada pria. Hal ini terjadi karena gejala penyakit jantung pada wanita sering berbeda dengan pria sehingga terlambat dikenali.</p>
<p><strong>PATOFISIOLOGI</strong><br />
Kebanyakan pasien dengan infark miokard akut mencari pengobatan karena rasa sakit didada. Namun demikian ,gambaran klinis bisa bervariasi dari pasien yang datang untuk melakukan pemeriksaan rutin, sampai pada pasien yang merasa nyeri di substernal yang hebat dan secara cepat berkembang menjadi syok dan eadem pulmonal, dan ada pula pasien yang baru saja tampak sehat lalu tiba-tiba meninggal. Serangan infark miokard biasanya akut, dengan rasa sakit seperti angina,tetapi tidak seperti angina yang biasa, maka disini terdapat rasa penekanan yang luar biasa pada pappa atau perasaan akan datangnya kematian. Bila pasien sebelumnya pernah mendapat serangan angina ,maka ia prejudice bahwa sesuatu yang berbeda dari serangan angina sebelumnya sedang berlangsung. Juga, kebalikan dengan angina yang biasa, infark miokard akut terjadi sewaktu pasien dalam keadaan istirahat ,sering pada jam-jam awal dipagi hari. Nitrogliserin tidaklah mengurangkan rasa sakitnya yang bisa kemudian menghilang berkurang dan bisa pula bertahan berjam-jam malahan berhari-hari. Nausea dan vomitus merupakan penyerta rasa sakit tsb dan bisa hebat, terlebih-lebih apabila diberikan martin untuk rasa sakitnya.<br />
Rasa sakitnya adalah diffus dan bersifat mencekam, mencekik, mencengkeram atau membor. Paling nyata didaerah subternal, dari mana ia menyebar kedua lengan, kerongkongan atau dagu, atau abdomen sebelah atas (sehingga ia mirip dengan kolik cholelithiasis, cholesistitis akut ulkus peptikum akut atau pancreatitis akut).<br />
Terdapat laporan adanya infark miokard tanpa rasa sakit. Namun hila pasien-pasien ini ditanya secara cermat, mereka biasanya menerangkan adanya gangguan pencernaan atau rasa benjol didada yang samar-samar yang hanya sedikit menimbulkan rasa tidak enak/senang. Sekali-sekali pasien akan mengalami rasa napas yang pendek (seperti orang yang kelelahan) dan bukanya tekanan pada substernal.Sekali-sekali bisa pula terjadi cekukan/singultus akibat irritasi diapragma oleh infark dinding inferior. pasien biasanya tetap sadar ,tetapi bisa gelisah, cemas atau bingung. Syncope adalah jarang, ketidak sadaran akibat iskemi serebral, sebab cardiac output yang berkurang bisa sekali-sekali terjadi.Bila pasien-pasien ditanyai secara cermat, mereka sering menyatakan bahwa untuk masa yang bervariasi sebelum serangan dari hari 1 hingga 2 minggu ) ,rasa sakit anginanya menjadi lebih parah serta tidak bereaksi baik tidak terhadap pemberian nitrogliserin atau mereka mulai merasa distres/rasa tidak enak substernal yang tersamar atau gangguan pencernaan (gejala -gejala permulaan /ancaman /pertanda). Bila serangan-serangan angina menghebat ini bisa merupakan petunjuk bahwa ada angina yang tidak stabil (unstable angina) dan bahwasanya dibutuhkan pengobatan yang lebih agresif.<br />
Bila diperiksa, pasien sering memperlihatkan wajah pucat bagai abu dengan berkeringat , kulit yang dingin .walaupun bila tanda-tanda klinis dari syok tidak dijumpai.<br />
Nadi biasanya cepat, kecuali bila ada blok/hambatan AV yang komplit atau inkomplit. Dalam beberapa jam, kondisi klinis pasien mulai membaik, tetapi demam sering berkembang. Suhu meninggi untuk beberapa hari, sampai 102 derajat Fahrenheid atau lebih tinggi, dan kemudian perlahan-lahan turun ,kembali normal pada akhir dari minggu pertama.</p>
<p><strong>DIAGNOSA</strong><br />
Pada EKG terdapat elevasi segmen ST diikuti dengan perubahan sampai inverse gelombang T, kemudian muncul peningkatan gelombang Q minimal di dua sadapan. Peningkatan kadar enzim atau isoenzim merupakan indikator spesifik infark miokard akut, yaitu kreatinin fosfikinase (CPK/CK), SGOT, laktat dehidrogenase (LDH), alfa hidrokasi butirat dehidrogenase (?-HBDH) troponin T, dan isoenzim CPK MP atau CKMB. CK meningkat dalam 4-8 jam, kemudian kembali normal setelah 48-72 jam. Tetapi enzim ini tidak spesifik karena dapat disebabkan penyakit lain, seperti penyakit muskular, hipotiroid, dan strok. CKMB lebih spesifik, terutama bila rasio CKMB : CK > 2,5 % namun nilai kedua-duanya harus meningkat dan penilaian dilakukan secara serial dalam 24 wad pertama. CKMB mencapai puncak 20 wad setelah infark. Yang lebih sensitif adalah penilaian rasio CKMB2 : CKMB1 yang mencapai puncak 4-6 wad setelah kejadian. CKMB2 adalah enzim CKMB dari miokard, yang kemudian diproses oleh enzim karboksipeptidase menghasilkan isomernya CKMB1. Dicurigai bila rasionya > 1,5, SGOT meningkat dalam12jam pertama, sedangkan LDH dalam 24 wad pertama. Cardiac specific troponin T (cTnT) dan Cardiac specific troponin I (cTnI) memiliki struktur asam amino berbeda dengan yang dihasilkan oleh otot rangka. Enzim cTnT tetap tinggi dalam 7-10 hari, sedangkan cTnI dalam 10-14 hari.<br />
Reaksi nonspesifik berupa leukositosis plimorfonuklear (PMN) mencapai 12.000-15.000 dalam beberapa wad dan bertahan 3-7 hari. Peningkatan LED terjadi lebih lambat, mencapai puncaknya dalam 1 minggu, dan dapat bertahan 1-2 minggu.<br />
Pemeriksaan radiologi berguna bila ditemukan adanya bendungan paru (gagal jantung) atau kardiomegali. Dengan ekokardiografi 2 dimensi dapat ditentukan daerah luas infark miokard akut fungsi pompa jantung serta komplikasi.</p>
<p><strong>PENATALAKSANAAN</strong><br />
1.Istirahat total.<br />
2.Diet makanan lunak/saring serta rendah garam (bila gagal jantung).<br />
3.Pasang infus dekstrosa 5% untuk persiapan pemberian obat intravena.<br />
4.Atasi nyeri :<br />
a.Morfin 2,5-5 mg iv atau petidin 25-50 mg im, bisa diulang-ulang.<br />
b.Lain-lain : nitrat, antagonis kalsium, dan beta bloker.<br />
c.oksigen 2-4 liter/menit.<br />
d.sedatif sedang seperti diazepam 3-4 x 2-5 mg per oral. Pada insomnia dapat ditambah flurazepam 15-30 mg.<br />
5.Antikoagulan :<br />
a.Heparin 20.000-40.000 U/24 wad iv tiap 4-6 wad atau drip iv dilakukan atas indikasi<br />
b.Diteruskan asetakumoral atau warfarin<br />
c.Streptokinase / trombolisis<br />
6.Pengobatan ditujukan sedapat mungkin memperbaiki kembali aliran pembuluh darah koroner. Bila ada tenaga terlatih, trombolisis dapat diberikan sebelum dibawa ke rumah sakit. Dengan trombolisis, kematian dapat diturunkan sebesar 40%.</p>
<p><strong>Tindakan Pra Rumah Sakit </strong><br />
Sebagai obat penghilang rasa sakit dan penenang,diberikan morfin 2,5-5 mg atau petidin 25-50 mg iv perlahan-lahan. Hati-hati pada penggunaan morfin pada IMA inferior karena dapat menimbulkan bradikardi dan hipotensi, terutama pada pasien asma bronkial danusia tua. Sebagai penenang dapat diberikan diazepam 5-10 mg.<br />
Diberikan infus dekstrosa 5% atau NaCl 0,9% dan oksigen 2-4 l/menit. Pasien dapat dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas ICCU. Bila ada tenaga terlatih beserta fasilitas konsultasi (EKG transtelfonik/tele-EKG) trombolisis dapat dilakukan. Pantau dan obati aritmia maligna yang timbul.</p>
<p><strong>Tindakan Perawatan di Rumah Sakit </strong><br />
Pasien dimasukkan ke ICCU atau ruang rawat dengan fasilitas penanganan aritmia (monitor). Lakukan tindakan di atas bila belum dikerjakan. Ambil darah untuk pemeriksaan darah rutin, gula darah, BUN, kreatinin,CK,CKMB, SGPT,LDH, dan elektrolit terutama K+ serum. Pemeriksaan pembekuan meliputi trombosit, waktu perdarahan, waktu pembekuan, Prothrombine Time (PT), dan Activated Partial Thromboplastin Time (APPT). Pemantauan irama jantung dilakukan sampai kondisi stabil. Rekaman EKG dapat diulangi setiap hari selama 72 wad pertama infark.<br />
Nitrat sublingual atau transdermal digunakan untuk mengatasi angina,sedangkannitrat iv diberikan bila sakit iskemia berulang atau berkepanjangan. Bila masih ada rasa sakit dapat diberikan morfin sulfat 2,5 mg iv dan dapat diulangi setiap 5-30 menit sampai rasa sakit hilang. Selama 8 wad pasien dipuasakan dan selanjutnya diberi makanan cair atau lunak dalam 24 wad pertama dan dilanjutkan dengan makanan lunak. Laksan diberikan untuk mencegah konstipasi.<br />
Pengobatan Trombolitik<br />
Obat trombolitik yaitu streptokinase , urokinase, aktivator plasminogen jaringan yang dikombinasi, disebut recombinant TPA (r-TPA), dan anisolylated plasminogen actvator complex (ASPAC).yang terdapat di Indonesia hanya stresptokinase dan r-TPA. Recombinant TPA bekerja lebih spesifik pada fibrin dibandingkan streptokinase dan waktu paruhnya lebih pendek. Obat ini menyebabkan reaksi alergi danhipotensi sehingga tidakboleh diulangi bila dalam 1 tahun sebelumnya telah diberikan, atau pasien dalam keadaan syok.<br />
Indikasi trombolitik adalah pasien berusia di bawah 70 tahun,nyeri pappa dalam 12 jam, elevasi RT > 1 mm pada sekurang-kurangnya 2 sadapan. Recombinant TPA sebaiknya diberikan pada infarkmiokard kurang dari 6 wad (window time).<br />
Kontraindikasi trombolitik adalah perdarahan organ dalam diseksi aorta, resusitasi jantung paru yang traumatik dan berkepanjangan, trauma kepala yang baru atau adanya neoplasma pada intrakranial, retinopati diabetik hemotragik, kehamilan, tekanan darah di atas 200/120 mmHg, serta riwayat perdarahan otak.<br />
Sebelum pemberian trombolitik diberikan aspirin 160 mg untuk dikunyah. Streptokinase diberikan dengan dosis 1,5 juta unit dalam 100 ml NaCl 0,9% selama 1 jam. Dosis r-TPA adalah 100mg dalam 3 wad dengan cara 10 mg diberikan dulu bolus iv,lalu 50 mg dalam infus selama 1 wad dan sisanya diselesaikan dalam 2 wad berikutnya. Penelitian GUSTO (1993) menunjukkan, pemberian 15 mg r-TPA secara bolus diikuti dengan 0,75 mg/kgBB dalam wad dan sisanya 0,5 mg/kgBB dalam 1 wad memberikan hasil lebih baik. Dosis maksimum 100 mg.<br />
Heparin diberikan setelah streptokinase bila terdapat inferk luas, tanda-tanda gagal jantung, atau bila diperkirakan pasien akan dirawat lama. Bila diberikan r-TPA, heparin diberikan bersama-sama sejak awal.<br />
Cara pemberian heparin adalah bolus 5.000 unit iv dilanjutkan dengan infus krang lebih 1.000 unitper wad selama 4-5 hari dengan menyesuaikan APTT 1,5-2 kali nilai normal.</p>
<p><strong>PECEGAHAN </strong><br />
Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penyakit arteri koroner, terutama yang dapat dirubah oleh penderita:<br />
Berhenti merokok<br />
Menurunkan berat badan<br />
Mengendalikan tekanan darah<br />
Menurunkan kadar kolesterol darah dengan diet atau dengan obat<br />
Melakukan olah raga secara teratur.</p>
<p><strong>PROGNOSIS</strong><br />
Tiga faktor penting yang menentukan indeks prognosis, yaitu potensi terjadinya aritmia yang gawat, potensi serangan iskemia lebih jauh, dan potensi pemburukan gangguan hemodinamik.<br />
Sebagian besar penderita yang bertahan hidup selama beberapa hari setelah serangan jantung dapat mengalami kesembuhan total; tetapi sekitar 10% meninggal dalam waktu 1 tahun. Kematian terjadi dalam waktu 3-4 bulan pertama, terutama pada penderita yang kembali mengalami angina, aritmia ventrikuler dan gagal jantung.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA </strong><br />
Tim Penyusun. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama. Media Aesculapius FKUI : Jakarta.<br />
medicastore.com<br />
Yayasan Jantung Indonesia online</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2012/01/acute-miocard-infark-ami.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delusi</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2011/10/delusi.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2011/10/delusi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 11:34:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[arti delusional]]></category>
		<category><![CDATA[arti kata waham]]></category>
		<category><![CDATA[campuran]]></category>
		<category><![CDATA[control]]></category>
		<category><![CDATA[definisi delusional]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi makna]]></category>
		<category><![CDATA[erotomanic]]></category>
		<category><![CDATA[grandiose]]></category>
		<category><![CDATA[influence]]></category>
		<category><![CDATA[jealous]]></category>
		<category><![CDATA[maksud delusi]]></category>
		<category><![CDATA[passivy]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh rokok terhadap penderita skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian delusi]]></category>
		<category><![CDATA[perawat dimata oranglain]]></category>
		<category><![CDATA[perception]]></category>
		<category><![CDATA[persecutory]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[somatic]]></category>
		<category><![CDATA[waham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=177</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. ―Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti. Gangguan delusi dapat terjadi pada siapa saja dengan beberapa kondisi tertentu, tanpa mestinya adanya gejala yang menunjukkan skizofrenia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gangguan delusi merupakan suatu kondisi dimana pikiran terdiri dari satu atau lebih delusi. ―Delusi diartikan sebagai ekspresi kepercayaan yang dimunculkan kedalam kehidupan nyata seperti merasa dirinya diracun oleh orang lain, dicintai, ditipu, merasa dirinya sakit atau disakiti. Gangguan delusi dapat terjadi pada siapa saja dengan beberapa kondisi tertentu, tanpa mestinya adanya gejala yang menunjukkan skizofrenia.</p>
<p>Secara awam orang yang berhadapan dengan pasien memiliki delusi akan terlihat nyata, hal ini disebabkan ekspresi wajah yang begitu menyakinkan sehingga orang akan mempercayai dengan apa yang diucapkan oleh individu dengan gangguan delusi tersebut. Pasien akan terlihat secara normal layaknya orang lain selama tema episode itu berlangsung. Disebut sebagai gangguan delusi bila kemunculan delusi tersebut bukan disebabkan oleh<span id="more-177"></span> kondisi medis.</p>
<p>Tipe delusi<br />
Ada beberapa macam tipe delusi diantaranya;<br />
• Delusion of erotomanic; individu atau pasien mempercayai seseorang mempunyai kedudukan penting dan terlibat percintaan dengannya.<br />
• Delusion of grandiose; pasien mempercayai bahwa ia mempunyai pengetahuan yang lebih, bakat, insight, kekuatan, kepercayaan orang, atau mempunyai hubungan khusus dengan orang terkenal bahkan Tuhan.<br />
• Delusion of jealous; pasien mempercayai bahwa pasangannya berselingkuh atau tidak dapat dipercaya.<br />
• Delusion of persecutory; pasien mempercayai bahwa dirinya ditipu, dimata-matai, diikuti, difitnah dan tidak mempercayai orang lain.<br />
• Delusion of somatic; pasien mempercayai bahwa tubuhnya merasakan sensasi sesuatu atau merasakan salah satu dari bagian organ tubuhnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.<br />
• Tipe campuran; mempunyai delusi lebih dari satu tema<br />
• Tipe tidak terdefinisi; bila tidak termasuk didalam kategori yang ada diatas; atau tipe lainnya yang berkaitan dengan budaya setempat</p>
<p>Beberapa tipe delusi lainnya dalam gangguan psikotik;<br />
• Delusion of control; waham dimana individu beranggapan bahwa dirinya dikendalikan dari luar, atau orang lain<br />
• Delusion of influence, pasien merasa dirinya dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan dari luar dirinya<br />
• Delusion of passivity, dimana individu dalam ketidaberdayaan, merasa dirinya sebagai orang paling malang<br />
• Delusion of perception, pengalaman indrawi yang berkenan dengan mistik atau mukjizat<br />
• Tipe campuran; mempunyai delusi lebih dari satu tema atau tipe lainnya yang berkaitan dengan budaya setempat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2011/10/delusi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delirium</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol dan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol menyebabkan subdural hematome]]></category>
		<category><![CDATA[arti delirium]]></category>
		<category><![CDATA[askep keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[askep keracunan makanan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep menarik diri pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada klien subdural hematoma]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien dengan keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien menarikdiri]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada klien dengan dehidrasi berat disertai delirium]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pasien dengan alkoholisme]]></category>
		<category><![CDATA[ciri ciri fisik kanker otak]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri penderi penyakit hidrosevalus]]></category>
		<category><![CDATA[definisi delirium akut]]></category>
		<category><![CDATA[delirium]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demam dan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fatofisiologi keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[fatofisiologi waham]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[hidrosefalus]]></category>
		<category><![CDATA[issue and trend keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[issue dan trend keperawatan maternity]]></category>
		<category><![CDATA[keracunan makanan definisi]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan klien dengan kanker otak]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan psikosa]]></category>
		<category><![CDATA[mekanisme amfetamin]]></category>
		<category><![CDATA[mekanismenya keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[mengobati infeksi otak]]></category>
		<category><![CDATA[meningitis]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan keracunan amfetamin]]></category>
		<category><![CDATA[penanggulangan penyakit hidrosefalus]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh obat demam terhadap gangguan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[psikosa]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[subdural hemtome pada orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[subdural otak]]></category>
		<category><![CDATA[terapi obat obatan keperawatan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tumor otak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium. Penyebab delirium: # Alkohol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.</p>
<p>Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium.</p>
<p>Penyebab delirium:<br />
# Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun<br />
# Efek toksik dari pengobatan<br />
# Kadar elektrolit, garam dan mineral <span id="more-188"></span>(misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu<br />
# Infeksi akut disertai demam<br />
# Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak<br />
# Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak.<br />
# Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak)<br />
# Kekurangan tiamin dan vitamin B12<br />
# Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme<br />
# Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan)<br />
# Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang<br />
# Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah<br />
# Stroke.</p>
<p>Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian.<br />
Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.</p>
<p>Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada.<br />
Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia.</p>
<p>Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri.<br />
Beberapa penderita mengalami paranoia dan <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/delusi.htm" class="broken_link">delusi</a> (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh).</p>
<p>Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/persepsi-ilusi-dan-halusinasi.htm">halusinasi</a> maupun delusi yang dialaminya.</p>
<p>Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif.</p>
<p>Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita.</p>
<p>Delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).</p>
<p>Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan sesegera mungkin ditentukan penyebabnya. Dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dan dititikberatkan pada respon neurologis penderita. Pemeriksan lainnya yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan darah, rontgen dan pungsi lumbal.</p>
<p>Pengobatan tergantung kepada penyebabnya;<br />
- infeksi diatasi dengan antibiotik<br />
- demam diatasi dengan obat penurun panas<br />
- kelainan kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan kadar cairan dan garam dalam darah.</p>
<p>Untuk meringankan agitasi diberikan obat-obat benzodiazepin (misalnya diazepam, triazolam dan temazepam).</p>
<p>Obat anti-psikosa (misalnya haloperidol, tioridazin dan klorpromazin) biasanya diberikan hanya kepada penderita yang mengalami paranoid atau sangat ketakutan atau penderita yang tidak dapat ditenangkan dengan benzodiazepin.</p>
<p>Jika penyebabnya adalah alkohol, diberikan benzodiazepin sampai masa agitasi penderita hilang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kanker Serviks</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2011/08/kanker-serviks.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2011/08/kanker-serviks.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 04:03:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[askep ca cervik]]></category>
		<category><![CDATA[askep ibu dengan ca cerviks]]></category>
		<category><![CDATA[askep ibu dengan ca serviks]]></category>
		<category><![CDATA[askep kanker]]></category>
		<category><![CDATA[askep kanker cervix]]></category>
		<category><![CDATA[askep kanker serviks]]></category>
		<category><![CDATA[ca cerviks]]></category>
		<category><![CDATA[ca cervix]]></category>
		<category><![CDATA[ca servik]]></category>
		<category><![CDATA[faktor resiko kanker serviks]]></category>
		<category><![CDATA[ibu hamil dengan kanker leher rahim]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[kanker cervik]]></category>
		<category><![CDATA[kanker cervix]]></category>
		<category><![CDATA[kanker serviks stadim 3 b ganas]]></category>
		<category><![CDATA[kanker servix]]></category>
		<category><![CDATA[karsinoma cervix]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan]]></category>
		<category><![CDATA[manifestasi kanker]]></category>
		<category><![CDATA[metroragia]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi ami]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologis ami]]></category>
		<category><![CDATA[penatalaksanaan gejala kanker cervix]]></category>
		<category><![CDATA[pendarahan pada klien ca cervix]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian metroragia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit c.a servix]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan penyakit kanker serviks]]></category>
		<category><![CDATA[servik]]></category>
		<category><![CDATA[serviks]]></category>
		<category><![CDATA[stage ca serviks]]></category>
		<category><![CDATA[tentang vesika urinaria]]></category>
		<category><![CDATA[tumor ganas]]></category>
		<category><![CDATA[tumor vesika urinaria]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya. Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain : 1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual 2. Jumlah kehamilan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya.</p>
<p>Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :<br />
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual<br />
2. Jumlah kehamilan dan partus<br />
3. Jumlah perkawinan<span id="more-196"></span><br />
4. Infeksi virus<br />
5. Sosial Ekonomi<br />
6. Hygiene dan sirkumsisi<br />
7. Merokok dan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)</p>
<p>Manifestasi kanker rahim<br />
- Metroragia<br />
- Kepitihan warna putih atau purulen yang berbau dan tidak gatal<br />
- Perdarahan pascacoitus<br />
- Perdarahan spontan<br />
- Adanya bau busuk yang khas<br />
- Obstruksi tital vesika urinaria<br />
- Pada yang lebih lanjut ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, anemia</p>
<p>Klasifikasi Klinis<br />
Stage 0	: Ca.Pre invasif<br />
Stage I	: Ca. Terbatas pada serviks<br />
Stage Ia 	: Disertai inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis<br />
Stage Ib 	: Semua kasus lainnya dari stage I<br />
Stage II 	: Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah mengenai dinding vagina. Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal<br />
Stage III	: Sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina<br />
Stage IIIB 	: Sudah mengenai organ-organ lain</p>
<p>Patofisiologi<br />
Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak terkendali. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuaomosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju kedalam rahim. Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak meminimalkan gejala dan perubahan ini tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan pap smear.</p>
<p>Penanganan<br />
Pada stadium O dan Ia dilakukan biopsi kerucut dan histerektomi transvaginal. Pada stadium Ib dan IIa penanganan yang dillakukan yaitu histerektomi radikal. sedangkan pada stadium IIb, III, dan IV dilakukan histrektomi transvaginal. Dan pada stadium IVa dan IVb penanganan yang diberikan yaitu radioterapi, radiasi paliatif, dan kemoterapi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2011/08/kanker-serviks.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cemas</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan cemas pada ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[panik]]></category>
		<category><![CDATA[rentang respon ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<category><![CDATA[tingkatan cemas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Cemas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbeda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cemas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbeda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat menghasilkan suatu tindakan yang destruktif atau konstruktif.</p>
<p>Beberapa teori membagi ansietas kedalam empat tingkat <span id="more-224"></span>sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :<br />
1. Ansietas ringan<br />
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan ktreativitas.<br />
2. Ansietas sedang<br />
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.<br />
3. Ansietas berat<br />
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan.<br />
4. Ansietas panik<br />
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Pelaksanaan (SP) Halusinasi</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 14:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[contoh komunikasi pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[contoh sp keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[contoh strategi pelaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[implementasi]]></category>
		<category><![CDATA[implementasi keperawatan jiwa halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi]]></category>
		<category><![CDATA[klien]]></category>
		<category><![CDATA[sp halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[sp jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[sp jiwa halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[sp jiwa tentang halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[sp keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[sp klien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[sp pada halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[strategi dalam keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pelaksana untuk pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pelaksanaan]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pelaksanaan halusinasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pada Klien SP I 1.    Mengidentifikasi  jenis halusinasi pasien 2.    Mengidentifikasi isi halusinasi pasien 3.    Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien 4.    Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien 5.    Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi 6.    Mengidentifikasi  respons pasien terhadap halusinasi 7.    Mengajarkan pasien menghardik halusinasi 8.    Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian SP II 1.   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada Klien<br />
SP I<br />
1.    Mengidentifikasi  jenis <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/persepsi-ilusi-dan-halusinasi.htm">halusinasi</a> pasien<br />
2.    Mengidentifikasi isi <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/fase-halusinasi.htm">halusinasi</a> pasien<br />
3.    Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien<br />
4.    Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien<br />
5.    Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi <span id="more-217"></span><br />
6.    Mengidentifikasi  respons pasien terhadap halusinasi<br />
7.    Mengajarkan pasien menghardik halusinasi<br />
8.    Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP II<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP III<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan pasien di rumah)<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP IV<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>Pada Keluarga Klien<br />
SP I<br />
1.    Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien<br />
2.    Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenis halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya<br />
3.    Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi<br />
SP II<br />
1.    Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan Halusinasi<br />
2.    Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien Halusinasi<br />
SP III<br />
1.    Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning)<br />
2.    Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waham</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/waham.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/waham.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 14:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[askep waham]]></category>
		<category><![CDATA[berdosa]]></category>
		<category><![CDATA[bersalah]]></category>
		<category><![CDATA[curiga]]></category>
		<category><![CDATA[definisi waham kejar]]></category>
		<category><![CDATA[diancam]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi waham]]></category>
		<category><![CDATA[genetis]]></category>
		<category><![CDATA[kejar]]></category>
		<category><![CDATA[keyakinan]]></category>
		<category><![CDATA[kiskin]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi waham]]></category>
		<category><![CDATA[macam waham]]></category>
		<category><![CDATA[neurobiologis]]></category>
		<category><![CDATA[neurotransmitter]]></category>
		<category><![CDATA[pasien dengan waham]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian waham bizar]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian waham kebesaran]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab curiga]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab waham kebesaran]]></category>
		<category><![CDATA[psikologis]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[sp waham]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pelaksanaan waham]]></category>
		<category><![CDATA[tak waham]]></category>
		<category><![CDATA[tanda dan gejala waham]]></category>
		<category><![CDATA[tanda dan gejala waham kebesaran]]></category>
		<category><![CDATA[virus]]></category>
		<category><![CDATA[waham]]></category>
		<category><![CDATA[waham adalah]]></category>
		<category><![CDATA[waham bizarre]]></category>
		<category><![CDATA[waham cemburu]]></category>
		<category><![CDATA[waham genetis]]></category>
		<category><![CDATA[waham hipokindri]]></category>
		<category><![CDATA[waham kebesaran]]></category>
		<category><![CDATA[waham kebesaran pengertian]]></category>
		<category><![CDATA[waham kejar]]></category>
		<category><![CDATA[waham kendali pikir]]></category>
		<category><![CDATA[waham tersangkut]]></category>
		<category><![CDATA[wahamtak berguna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan. Waham timbul tanpa stimulus. Penyebab : 1.     Faktor Predisposisi - Genetis : diturunkan, adanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas sosial. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan. Waham timbul tanpa stimulus.</p>
<p>Penyebab :<br />
1.     Faktor Predisposisi<br />
- Genetis : diturunkan, adanya abnormalitas perkembangan sistem syaraf yang berhubungan dengan respon biologis yang maladaptif.<br />
- Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal dan korteks limbic.<br />
- Neurotransmitter : abnormalitas pada dopamine, serotonin<span id="more-201"></span>, dan glutamat.<br />
- Virus : paparan virus influensa pada trimester III<br />
- Psikologis : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.<br />
2.     Faktor Presipitasi<br />
- Proses pengolahan informasi yang berlebihan<br />
- Mekanisme penghantaran listrik abnormal<br />
- adanya gejala pemicu</p>
<p>Ciri-ciri waham :<br />
- Tidak realistik<br />
- Tidak logis<br />
- Menetap<br />
- Egosentris<br />
- Diyakini kebenarannya oleh penderita<br />
- Tidak dapat dikoreksi<br />
- Dihayat oleh penderita sebagai hal yang nyata<br />
- Keadaan atau hal yang diyakini itu bukan merupakan bagian sosiokultural setempat.</p>
<p>Macam-macam Waham<br />
- Waham kendali pikir (thought of being controlled). Penderita percaya bahwa pikirannya, perasaan atau tingkah lakunya dikendalikan oleh kekuatan dari luar.<br />
- Waham kebesaran ( delusion of grandiosty). Penderita mempunyai kepercayaan bahwa dirinya merupakan orang penting dan berpengaruh, mungkin mempunyai kelebihan keuatan yang terpendam, atau benar-benar merupakan figur orang kuat sepanjang sejarah (misal : Jenderal Soedirman, Napoleon, Hitler, dan lain-lain).<br />
- Waham tersangkut. penderita percaya bahwa setiap kejadian di sekelilingnya mempunyai hubungan pribadi seperti perintah atau pesan khusus. Penderita percaya bahwa orang asing disekitarnya memperhatikan dirinya, penyiar televisi dan broadcasting mengirimkan pesan dengan bahasa sandi.<br />
- Waham bizarre, merupakan waham yang aneh. Termasuk dalam waham bizarre, antara lain : waham sisip pikir/thought of insertion (percaya bahwa seseorang telah menyisipkan pikirannya ke kepala penderita); waham siar pikir/thought of broadcasting (percaya bahwa pikiran penderita dapat diketahui orang lain, orang lain seakan-akan dapat membaca pikiran penderita); waham sedot pikir/thought of withdrawal (percaya bahwa seseorang telah mengambil keluar pikirannya); waham kendali pikir;waham hipokondri.<br />
- Waham Hipokondri. Penderita percaya bahwa di dalam dirinya ada benda yang harus dikeluarkan sebab dapat membahayakan dirinya.<br />
- Waham Cemburu. Cemburu disini adalah cemburu yang bersifat patologis<br />
- Waham Curiga. Curiga patologis sehingga curiganya sangat berlebihan<br />
- Waham Diancam. Kepercayaan atau keyakinan bahwa dirinya selalu diikuti, diancam, diganggu atau ada sekelompok orang yang memenuhinya.<br />
- Waham Kejar. Percaya bahwa dirinya selalu dikejar-kejar orang<br />
- Waham Bersalah. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang bersalah<br />
- Waham Berdosa. Percaya bahwa dirinya berdosa sehingga selalu murung<br />
- Waham Tak Berguna. Percaya bahwa dirinya tak berguna lagi sehingga sering berpikir lebih baik mati (bunuh diri)<br />
- Waham Kiskin. Percaya bahwa dirinya adalah orang yang miskin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/waham.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hyperpyrexia</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/hyperpyrexia.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/hyperpyrexia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 14:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA["terjadinya proses kenaikan suhu tubuh"]]></category>
		<category><![CDATA[akibat hiperventilasi]]></category>
		<category><![CDATA[antikonvulsi]]></category>
		<category><![CDATA[antipiretik]]></category>
		<category><![CDATA[chlorpromazine]]></category>
		<category><![CDATA[chlorpromazine adalah]]></category>
		<category><![CDATA[definisi antipiretik]]></category>
		<category><![CDATA[diazepam]]></category>
		<category><![CDATA[evaporasi]]></category>
		<category><![CDATA[hiperpireksi]]></category>
		<category><![CDATA[hipertermi]]></category>
		<category><![CDATA[hiperventilasi]]></category>
		<category><![CDATA[hyperpyrexia]]></category>
		<category><![CDATA[kumbah lambung]]></category>
		<category><![CDATA[mekanisme hiperventilasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab hipertermi]]></category>
		<category><![CDATA[proses kenaikan dan penurunan suhu]]></category>
		<category><![CDATA[proses terjadinya kenaikan suhu tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=199</guid>
		<description><![CDATA[Hiperpirexia adalah kenaikan suhu tubuh diatas 410 C (rectal). Merupakan keadaan gawat darurat medik dengan angka kematian yang tinggi terutama pada bayi sangat muda, usia lanjut dan penderita-penderita penyakit jantung. Hiperpirexia terjadi karena produksi panas berlebihan, terhambatnya pengeluaran panas atau kerusakan thermoregulator. Setiap kenaikan 10 C suhu tubuh akan menaikkan metabolisme  + 13%, sehingga pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hiperpirexia adalah kenaikan suhu tubuh diatas 410 C (rectal). Merupakan keadaan gawat darurat medik dengan angka kematian yang tinggi terutama pada bayi sangat muda, usia lanjut dan penderita-penderita penyakit jantung.<br />
Hiperpirexia terjadi karena produksi panas berlebihan, terhambatnya pengeluaran panas atau kerusakan thermoregulator. Setiap kenaikan 10 C suhu tubuh akan menaikkan metabolisme  + 13%, sehingga pada suhu 40,50 C metabolisme meningkat 50%, konsumsi oksigen meningkat, terjadi metabolisme anaerob dan asidosis metabolik. Suhu  &gt; 410 C anak bisa mengalami kejang, sedangkan suhu &gt; 420 C dapat menyebabkan denaturasi dan kerusakan sel secara langsung.<br />
Akibat yang bisa terjadi pada hiperpirexia<span id="more-199"></span> :<br />
1.    Renjatan / Hipovolemia<br />
2.    Gangguan fungsi jantung<br />
3.    Gangguan fungsi koagulasi<br />
4.    Gangguan fungsi ginjal<br />
5.    Nekrosis hepatosellular<br />
6.    Hiperventilasi, yang dapat menyebabkan hipokapnea, alkalosis dan tetani.</p>
<p>PENGOBATAN<br />
Antipiretik tidak diberikan secara otomatis pada setiap penderita panas karena panas merupakan usaha pertahanan tubuh, pemberian antipiretik juga dapat menutupi kemungkinan komplikasi. Pengobatan terutama ditujukan terhadap penyakit penyebab panas.<br />
Antipiretika.<br />
Parasetamol                       :    10 -15 mg/kg BB/ kali (dapat diberikan secara oral atau rektal).<br />
Metamizole ( novalgin )    :    10 mg/kg BB/kali per oral atau intravenous.<br />
Ibuprofen                           :    5-10 mg/kg BB/ kali, per oral atau rektal.<br />
Pendinginan Secara fisik<br />
Merupakan terapi pilihan utama. Kecepatan penurunan suhu &gt; 0,10 C/menit sampai tercapai suhu 38,50 C. Cara-cara  physical cooling/compres :<br />
Evaporasi : penderita dikompres dingin seluruh tubuh, disertai kipas angin untuk mempercepat penguapan. Cara ini paling mudah, tidak invasif dan efektif. Cara lain yang bisa digunakan : kumbah lambung dengan air dingin, infus cairan dingin, enema dengan air dingin atau humidified oksigen dingin, tetapi cara ini kurang efektif.<br />
Penurunan suhu tubuh yang cepat dapat terjadi refleks vasokonstriksi dan shivering yang akan meningkatkan kebutuhan oksigen dan produksi panas yang merugikan tubuh. Untuk mengurangi dampak ini dapat diberi :<br />
- Diazepam : merupakan pilihan utama dan lebih menguntungkan karena mempunyai efek antikonvulsi dan tidak punya efek hipotensi.<br />
- Chlorpromazine</p>
<p>KEPUSTAKAAN<br />
1.     Stewart C. Hyperthermia. Http://www.thrombosis-consult.com/articles/Textbook/104_hy-perthermia.htm.<br />
2.     Root RK. Host responses to infection : Fever, hyperthermia, and hypothermia. Htpp:// www.oup-usa.org/sc/019508103x/019508103x_09.pdf.<br />
3.     Blum FC. Fever.In Marx JA,Hockberger RS, Walls RM eds. Rosen’s Emergency  Medicine :  Concepts and Clinical Practice 5th ed. St. Louis : Mosby, 2002; 116-9.<br />
4.     Barkin RM, Zukin DD. Fever in children. In Marx JA, Hockberger RS, Walls RM eds. Rosen’s Emergency Medicine : Concepts and Clinical Practice 5th  ed. St. Louis : Mosby, 2002; 2234-45.<br />
5.     Simon HB. Hyperthermia. N Engl J Med 1993; 329: 483-7.<br />
6.     Lorin MI. Fever in critically ill patients. Seminars Ped Infect Dis 2000; 11 (1) :<br />
7.     Kregel KC. Molecular biology of thermoregulation : Heat shock accelerator : modifying Factors in physiological stress responses and acquired thermotolerance. J Appl Physiol 2002; 92 : 2177-86.<br />
8.     Wexler RK. Evaluation and treatment of heat-related illnesses. Am Fam Doctors 2002; 65 (11) : 2307-14.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/hyperpyrexia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian II)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[aske dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demiensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien jiwa gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial pada penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan demensia]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan masalah psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[contoh proposal keperawatan jiwa strategi pelaksanaan keperawatan pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia pada keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang paling penting dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak tentang kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit dalam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal perawat]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal stres lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal tentang klasifikasi kanker rahim]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal; kebutuhan psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi depresi]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang gangguan kesadaran dan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam merawat pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan lansia oleh keluaraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.</p>
<p>Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian <span id="more-182"></span>Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-keseha…da-lanjut-usia.htm">Lansia</a> agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.</p>
<p>Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.</p>
<p>Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Referensi<br />
1. Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from</p>
<p>2. Harvey, R. J., Robinson, M. S. &amp; Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209.</p>
<p>3. Mace, N. L. &amp; Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.</p>
<p>4. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian I)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 02:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan tingkah laku pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pemicu keluarga lansia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[dementia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan jiwa pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[konsep askep pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang pemeriksaan fisik]]></category>
		<category><![CDATA[makalah demensia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kesehatan cara berkomunikasi dalam perawatan dengan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penyakit kejiwaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian keperawatan pada pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab,gejala dan pengertian dementia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologi kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[referat demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi dementia]]></category>
		<category><![CDATA[sikap empati dalam tahap pengkajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm">Demensia</a> bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.</p>
<p>Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, <span id="more-179"></span>penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.</p>
<p>Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.</p>
<p>Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.</p>
<p>Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian position mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.</p>
<p>Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 15/60 queries in 0.356 seconds using disk: basic
Object Caching 1776/2179 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 23:40:37 -->
