<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Feb 2010 22:53:33 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Acute Myeloproliferative Leukimia (Acute Nonlymphocytic Leukimia)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/acute-myeloproliferative-leukimia-acute-nonlymphocytic-leukimia.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/acute-myeloproliferative-leukimia-acute-nonlymphocytic-leukimia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 22:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Acute Myeloproliferative Leukimia]]></category>
		<category><![CDATA[Acute Nonlymphocytic Leukimia]]></category>
		<category><![CDATA[aml]]></category>
		<category><![CDATA[anll]]></category>
		<category><![CDATA[benzena]]></category>
		<category><![CDATA[bloom syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[bone marrow]]></category>
		<category><![CDATA[down syndrome]]></category>
		<category><![CDATA[fancony's syndrom]]></category>
		<category><![CDATA[immunoinflamatory]]></category>
		<category><![CDATA[immunosupresant]]></category>
		<category><![CDATA[leukimia congenital]]></category>
		<category><![CDATA[leukomogens]]></category>
		<category><![CDATA[maligna]]></category>
		<category><![CDATA[myeloma]]></category>
		<category><![CDATA[sel marrow immature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[ANLL atau AML adalah penyakit maligna yang progressif terhadap jaringan hematopoetic dan menyebabkan kerusakan stem cell. Ini dikarakteristikan oleh perdominan dari sel marrow immature yang menghalangi diferensiasi atau sebagian diferensiasi dari maturasi dengan atau tanpa keterlibatan dari darah di sekitarnya. Normalnya elemen myeloid menurun jumlahnya, tetapi pada penyakit ini didapat sel-sel leukemia dan bahkan berubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ANLL atau AML adalah penyakit maligna yang progressif terhadap jaringan hematopoetic dan menyebabkan kerusakan stem cell. Ini dikarakteristikan oleh perdominan dari sel marrow immature yang menghalangi diferensiasi atau sebagian diferensiasi dari maturasi dengan atau tanpa keterlibatan dari darah di sekitarnya. Normalnya elemen myeloid menurun jumlahnya, tetapi pada penyakit ini didapat sel-sel leukemia dan bahkan berubah jika proliferasi maligna tidak terkontrol. ANLL merupakan penyakit yang fatal. Kematian biasanya disebabkan oleh efek dari pansitopenia (anemia, bleeding dan penurunan kekebalan terhadap infeksi). ANLL ditemukan terhadap orang dewasa tetapi penyakit ini juga ditemukan pada semua umur. Factor predisposisi <span id="more-234"></span> pada laki-laki.</p>
<p>Penyebab dari ANLL tidak jelas dan merupakan kombinasi atau interaksi dari berbagai factor.<br />
1.    Radiasi<br />
Peran paparan radiasi menjadi factor berkembanganya leukemia. Factor resikonya adalah:<br />
§    Seseorang yang bekerja diradiologi klinik tanpa menggunakan pengaman yang standar.<br />
§    Pasien yang mendapatkan terapi radiasi terhadap ankylosing spondylitis dibandingkan pasien lain dengan penyakit yang sama tetapi tanpa mendapat radiasi.<br />
§    Seseorang yang selamat terhadap peristiwa Hirosima dan Nagasaki.<br />
Masing-masing factor tersebut mempunyai insiden terhadap peningkatan leukemia.<br />
2.    Zat-zat kimia<br />
Obat-obatan dan terapi kimia dapat menyebabkan depresi atau aplasia dari bone marrow yang memungkinkan menyebabkan leukemia dan disebut leukemogens. Beberapa dari cloramphenicol, phenylbutazone, komponen arsenic, sulfonamide, dan beberapa insekstisida juga agen sitotoksik yang digunakan untu terapi neoplasma mempunyai potensial terhadap leukemogens. Termasuk phenylalanine mustard dan cyclophospamide digunakan untuk terapi multiple myeloma, agen alkylating digunakan untuk terapi beberapa tipe kanker termasuk penyakit Hodgkin, dan immunosuppressant untuk terapi penyakit immunoinflammatory. Benzena juga diketahui dengan jelas sebagai penyebab kanker.</p>
<p>3.    Genetik<br />
Penyimpangan dari kromosom termasuk aneuploidy dan kerusakan ditunjukkan dengan beberapa penyakit yang berhubungan dengan peningkatan insiden ANLL. Penyakit-penyakit tersebut termasuk Down syndrome (trisomy 21), Fanconi’s syndrome (kerusakan kromosom yang berlebihan), Bloom syndrome (kerusakan nilai kromosom dan rearrangement) dan D-trisomy. Leukimia congenital biasanya nonlympositik. Penelitian menunjukkan riwayat keluarga dengan leukemia juga mempunyai factor genetic penyebab leukemia akut.</p>
<p>4.    Virus<br />
Tidak ada kesimpulan terhadap pernyataan bahwa virus merupakan penyebab leukemia pada manusia. Walaupun demikian ada beberapa hasil penelitian yang menyokong teori virus sebagai penyebab leukemia antara lain : enzim reverse transciptase ditemukan dalam darah penderita leukemia. Seperti diketahui di dalam virus onkogenik seperti retrovirus tipe-C, yaitu jenis virus RNA yang menyebabkan leukemia pada binatang. Enzim tersebut menyebabkan virus yang bersangkutan dapat membentuk bahan genetic yang kemudian bergabung dengan genom sel yang terinfeksi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/acute-myeloproliferative-leukimia-acute-nonlymphocytic-leukimia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengobatan Herpes Zoster</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pengobatan-herpes-zoster.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pengobatan-herpes-zoster.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 00:51:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[anti virus]]></category>
		<category><![CDATA[kortikosteroid]]></category>
		<category><![CDATA[mydriatik]]></category>
		<category><![CDATA[neuralgi]]></category>
		<category><![CDATA[opthalmologis]]></category>
		<category><![CDATA[salicyl]]></category>
		<category><![CDATA[sterois topical]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Pengobatan Herpes Zoster dapat melalui beberapa cara diantaranya :
1.	Pengobatan topical
·	Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin untuk mencegah vesikel pecah
·	Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x sehari selama 20  menit
·	Apabila lesi berkusta dan agak basah dapat diberikan salep [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Pengobatan <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/herpes-zoster.htm">Herpes Zoster</a> dapat melalui beberapa cara diantaranya :</p>
<p>1.	Pengobatan topical<br />
·	Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin untuk mencegah vesikel pecah<br />
·	Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x sehari selama 20  menit<br />
·	Apabila lesi berkusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik (basitrasin / polysporin ) untuk mencegah infeksi sekunder selama 3 x sehari<br />
2.	Pengobatan sistemik<span id="more-232"></span><br />
Drug of choice- nya adalah acyclovir yang dapat mengintervensi sintesis virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan infeksi herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat diberikan secara oral, topical atau parenteral. Pemberian lebih efektif pada hari pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang kecil terhadap postherpetic neuralgia.<br />
Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara – A, Vira – A) dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata.<br />
Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon inflamasi dan efektif namun penggunaannya masih kontroversi karena dapat menurunkan penyembuhan dan menekan respon immune.<br />
Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen nyeri dan antihistamin diberikan untuk menyembuhkan pruritus.</p>
<p>Penderita dengan keluhan mata<br />
Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukan hubungan dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani dengan konsultasi opthamologis. Dapat diobati dengan salep mata steroid topical dan mydriatik, anti virus dapat diberikan.</p>
<p>Neuralgia Pasca Herpes zoster<br />
·	Bila nyeri masih terasa meskipun sudah diberikan acyclovir pada fase akut, maka dapat diberikan anti depresan trisiklik ( misalnya : amitriptilin 10 – 75 mg/hari)<br />
·	Tindak lanjut ketat bagi penanganan nyeri dan dukungan emosional merupakan bagian terpenting perawatan<br />
·	Intervensi bedah atau rujukan ke klinik nyeri diperlukan pada neuralgi berat yang tidak teratasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pengobatan-herpes-zoster.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda dan Gejala Herpes Zoster</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/tanda-dan-gejala-herpes-zoster.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/tanda-dan-gejala-herpes-zoster.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Feb 2010 00:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[erupsi kulit]]></category>
		<category><![CDATA[herpes zoster]]></category>
		<category><![CDATA[limfadenopati]]></category>
		<category><![CDATA[manifestasi klinik]]></category>
		<category><![CDATA[tanda dan gejala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Herpes zoster dapat menimbulkan gejala prodomal dan timbul erupsi kulit.
Gejala Prodomal
1.    Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodomal yang berlangsung selama 1 – 4 hari.
2.    Gejala yang mempengaruhi tubuh : demam, sakit kepala, fatigue, malaise, nusea, rash, kemerahan, sensitive, sore skin ( penekanan kulit), nyeri (rasa terbakar atau tertusuk), gatal dan kesemutan.
3.    Nyeri bersifat segmental dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/herpes-zoster.htm">Herpes zoster </a>dapat menimbulkan gejala prodomal dan timbul erupsi kulit.</p>
<p>Gejala Prodomal<br />
1.    Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodomal yang berlangsung selama 1 – 4 hari.<br />
2.    Gejala yang mempengaruhi tubuh : demam, sakit kepala, fatigue, malaise, nusea, rash, kemerahan, sensitive, sore skin ( penekanan kulit), nyeri (rasa terbakar atau tertusuk), gatal dan kesemutan.<br />
3.    Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus – menerus atau hilang timbul. Nyeri juga bisa terjadi selama erupsi kulit.<br />
4.    Gejala yang mempengaruhi mata<span id="more-229"></span> :<br />
Berupa kemerahan, sensitive terhadap cahaya, pembengkakan kelopak mata. kekeringan mata, pandangan kabur, penurunan sensasi penglihatan dan lain – lain.</p>
<p>Timbul Erupsi Kulit<br />
1.    Kadang terjadi limfadenopati regional<br />
2.    Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di seluruh bagian tubuh , yang tersering di daerah ganglion torakalis.<br />
3.    Lesi dimulai dengan macula eritroskuamosa, kemudian terbentuk papul – papul dan dalam waktu 12 – 24 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Pada hari ketiga berubah menjadi pastul yang akan mengering menjadi krusta dalam 7 – 10 hari. Krusta dapat bertahan sampai 2 – 3 minggu kemudian mengelupas. Pada saat ini nyeri segmental juga menghilang<br />
4.    Lesi baru dapat terus muncul sampai hari ke – 4 dan kadang – kadang sampai hari ke 7<br />
5.    Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan macula hiperpigmentasi dan  jaringan  parut (pitted scar)<br />
6.    Pada lansia biasanya mengalami lesi yang lebih parah dan mereka lebih sensitive terhadap nyeri yang dialami.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/tanda-dan-gejala-herpes-zoster.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Herpes Zoster</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/herpes-zoster.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/herpes-zoster.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 00:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[cacar air]]></category>
		<category><![CDATA[faktor pencetus]]></category>
		<category><![CDATA[faktor resiko]]></category>
		<category><![CDATA[herpes zoster]]></category>
		<category><![CDATA[varicella zoster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[Herpes zoster adalah penyakit setempat yang terjadi terutama pada orang tua yang khas ditandai oleh adanya nyeri radikuler yang unilateral serta adanya erupsi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang diinervasi oleh serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensoris dari nervus cranialis.
Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster . virus varicella zoster terdiri dari kapsid [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Herpes zoster adalah penyakit setempat yang terjadi terutama pada orang tua yang khas ditandai oleh adanya nyeri radikuler yang unilateral serta adanya erupsi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang diinervasi oleh serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensoris dari nervus cranialis.</p>
<p>Herpes zoster disebabkan oleh virus varicella zoster . virus varicella zoster terdiri dari kapsid berbentuk ikosahedral dengan diameter 100 nm. <span id="more-227"></span>Kapsid tersusun atas 162 sub unit protein – virion yang lengkap dengan diameternya 150 – 200 nm, dan hanya virion yang terselubung yang bersifat infeksius. Infeksiositas virus ini dengan cepat dihancurkan oleh bahan organic , deterjen, enzim proteolitik, panas dan suasana Ph yang tinggi. Masa inkubasinya 14 – 21 hari.</p>
<p>Faktor Resiko<br />
1.	Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat daya tahan tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster makin tinggi pula resiko terserang nyeri.<br />
2.	Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukimia. Adanya lesi pada ODHA merupakan manifestasi pertama dari immunocompromised.<br />
3.	Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.<br />
4.	Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang.</p>
<p>Factor pencetus kambuhnya herpes :<br />
1. Trauma / luka<br />
2. Demam<br />
3. Gangguan pencernaan<br />
4. Sinar Ultraviolet<br />
5. Stress<br />
6. Kelelahan<br />
7. Alkohol<br />
8. Obat-obatan<br />
9. Haid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/herpes-zoster.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cemas</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Feb 2010 00:37:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[panik]]></category>
		<category><![CDATA[rentang respon ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[takut]]></category>
		<category><![CDATA[tingkatan cemas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Cemas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbeda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cemas merupakan reaksi emosional terhadap penilaian dari stimulus. Keadaan emosi ini biasanya merupakan pengalaman individu yang subyektif, yang tidak diketahui secara khusus penyebabnya. Ansietas berbeda dengan takut. Takut adalah penilaian intelektual dari stimulus yang mengancam dan obyeknya jelas. Individu tersebut dapat menggambarkan sumber dari rasa takut. Ansietas dapat merupakan suatu sumber kekuatan dan energinya dapat menghasilkan suatu tindakan yang destruktif atau konstruktif.</p>
<p>Beberapa teori membagi ansietas kedalam empat tingkat <span id="more-224"></span>sesuai dengan rentang respon ansietas yaitu :<br />
1. Ansietas ringan<br />
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan menghasilkan pertumbuhan dan ktreativitas.<br />
2. Ansietas sedang<br />
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal lain.<br />
3. Ansietas berat<br />
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak pengarahan.<br />
4. Ansietas panik<br />
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/cemas.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skizofrenia Simpleks</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-simpleks.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-simpleks.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 00:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[ECT]]></category>
		<category><![CDATA[hebrefenik]]></category>
		<category><![CDATA[kemunduran mental]]></category>
		<category><![CDATA[psikoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia simpleks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=221</guid>
		<description><![CDATA[Skizofrenia simpleks merupakan salah satu jenis dari Skizofrenia. Gangguan jiwa jenis ini timbul pertama kali pada masa pubertas dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan (Maramis, 1998).
Diagnosis Skizofrenia simpleks sulit secara meyakinkan karena tergantung kepada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan-lahan dan progresif dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia, tanpa didahului oleh riwayat halusinasi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Skizofrenia simpleks merupakan salah satu jenis dari Skizofrenia. Gangguan jiwa jenis ini timbul pertama kali pada masa pubertas dengan gejala utama kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan (Maramis, 1998).<br />
Diagnosis <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/skizofrenia.htm">Skizofrenia</a> simpleks sulit secara meyakinkan karena tergantung kepada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan-lahan dan progresif dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia, tanpa didahului oleh riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik. <span id="more-221"></span>Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup dan penarikan diri secara sosial.  ( PPDGJ – 3,2001 )<br />
Skizofrenia simpleks kurang jelas psikotiknya dibandingkan dengan sub tipe skizofrenia jenis lainnya. Penyebab Skizofrenia simpleks secara umum sama sebagaimana skizofrenia, yakni meliputi beberapa faktor :<br />
1.    Keturunan<br />
2.    Sistem endokrin<br />
3.    Sistem metabolisme<br />
4.    Susunan syaraf pusat<br />
5.    Teori Adolf Meyer<br />
6.    Teori Sigmund Freud<br />
7.    Eugen Bleuler.<br />
8.    Skizofrenia sebagai suatu sindroma<br />
9.    Skizofrenia suatu gangguan psikosomatik.</p>
<p>Gejala &#8211; gejala<br />
Gejala –gejala Skizofrenia simpleks yang khas adalah adanya kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat, timbulnya perlahan-lahan sekali.</p>
<p>Prognosa<br />
Prognosa secara umum mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :<br />
1.    Kepribadian pre psikotik<br />
2.    Timbulnya serangan Skizofrenia, akut lebih baik.<br />
3.    Jenis : Skizofrenia jenis hebefrenik dan simpleks sama jelek, penderita menuju ke arah kemunduran mental.<br />
4.    umur : makin muda permulaan, makin jelek.<br />
5.    Pengobatan : makin cepat makin baik.<br />
6.    Faktor pencetus : adanya faktor pencetus lebih baik.<br />
7.    Keturunan : dalam keluarga ada penderita lebih jelek.</p>
<p>Pengobatan<br />
Prinsip pengobatan Skizofrenia simpleks mengacu pada pengebotan penyakit Skizofrenia, yang meliputi :<br />
1.    Psikofarmaka<br />
2.    Terapi elektro konvulsi<br />
3.    Terapi koma insulin<br />
4.    Psikoterapi dan rehabilitasi<br />
5.    Lobotomi prefrontal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-simpleks.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Strategi Pelaksanaan (SP) Halusinasi</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 14:09:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[implementasi]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi]]></category>
		<category><![CDATA[klien]]></category>
		<category><![CDATA[strategi pelaksanaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Pada Klien
SP I
1.    Mengidentifikasi  jenis halusinasi pasien
2.    Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3.    Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4.    Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5.    Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi 
6.    Mengidentifikasi  respons pasien terhadap halusinasi
7.    Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8.    Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
SP II
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada Klien<br />
SP I<br />
1.    Mengidentifikasi  jenis <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/persepsi-ilusi-dan-halusinasi.htm">halusinasi</a> pasien<br />
2.    Mengidentifikasi isi <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/fase-halusinasi.htm">halusinasi</a> pasien<br />
3.    Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien<br />
4.    Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien<br />
5.    Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi <span id="more-217"></span><br />
6.    Mengidentifikasi  respons pasien terhadap halusinasi<br />
7.    Mengajarkan pasien menghardik halusinasi<br />
8.    Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP II<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP III<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan pasien di rumah)<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>SP IV<br />
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien<br />
2.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur<br />
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian</p>
<p>Pada Keluarga Klien<br />
SP I<br />
1.    Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien<br />
2.    Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenis halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya<br />
3.    Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi<br />
SP II<br />
1.    Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan Halusinasi<br />
2.    Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien Halusinasi<br />
SP III<br />
1.    Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning)<br />
2.    Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/strategi-pelaksanaan-sp-halusinasi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skizofrenia Katatonik</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-katatonik.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-katatonik.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 13:13:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[farmakoterapi]]></category>
		<category><![CDATA[gaduh gelisah]]></category>
		<category><![CDATA[katatonik]]></category>
		<category><![CDATA[psikodinamika]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[stupor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Skizofrenia katatonik dapat dimanifestasikan dalam bentuk stupor (ditandai dengan retardasi psikomotor, mutisme, kelakuan seperti lilin (postur), negativisme, regiditas  atau kegaduhan (legitasi psikomotor yang ekstrim yang dapat menyebabkan kelelahan atau kemungkinan melukai diri sendiri/orang lain bila tidak segera ditanggulangi. Skizofrenia katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolic, alcohol obat-obatan serta dapat juga terjadi  gangguan afektif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/skizofrenia.htm">Skizofrenia</a> katatonik dapat dimanifestasikan dalam bentuk stupor (ditandai dengan retardasi psikomotor, mutisme, kelakuan seperti lilin (postur), negativisme, regiditas  atau kegaduhan (legitasi psikomotor yang ekstrim yang dapat menyebabkan kelelahan atau kemungkinan melukai diri sendiri/orang lain bila tidak segera ditanggulangi. Skizofrenia katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolic, alcohol obat-obatan serta dapat juga terjadi  gangguan afektif. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk untuk mendiagnosa shizofrenia.<br />
Timbulnya pertama kali antara umur 15 – 30 tahun biasanya akut serta sering didahului stress emosional.  Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik <span id="more-214"></span>atau stupor katatonik.</p>
<p>1.    Gaduh gelisah katatonik :<br />
Terdapat hiperaktifitas motorik tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh rangsangan dari luar. Klien terus berbicara atau bergerak dan menunjukan steroitipi, manerisme, grimas,Mologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum, sehingga mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps atau kadang-kadang terjadi kematian (kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat penyakit badaniah : jantung, paru-paru dan sebagainya).  Seorang yang mulai membaik pada   shizofrenia gaduh gelisah katatonik  berulang-ulang minta dipulangkan dari Rumah Sakit. Pikiran ini diantaranya melalui berbagai macam cara, sehingga sudah merupakan perceivable.<br />
2.    Stupor katatonik   :<br />
Pada stupor katatonik penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali terhadap lingkungan.  Emosinya seperti dangkal. Gejala yang penting adalah gejala psikomotor seperti  :<br />
a.    Mutisme kadang-kadang dengan mata tertutup.<br />
b.    Muka tanpa mimik seperti topeng.<br />
c.    Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa hari, kadang-kadang sampai beberapa bulan.<br />
d.    Bila diganti posisinya penderita ditantang  : Negativisme.<br />
e.    Makanan ditolak , air ludah tidak ditelan,  sehingga terkumpul didalam mulut dan meleleh keluar, air seni dan faeces ditahan.<br />
f.    Terdapat  grimas dan katalepsi. Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai berbicara dan bergerak.</p>
<p>Etiologi Shizofrenia Katatonik  sama sebagaimana gejala shizofrenia secara umum yaitu   :<br />
1.    Keturunan<br />
2.    Sistem endokrin<br />
3.    Sistem metabolisme<br />
4.    Susunan saraf pusat<br />
5.    Teori Adolf Meyer<br />
6.    Teori Sigmund Freud<br />
7.    Eugen Bleuler<br />
8.    Shizofrenia sebagai satu sindroma<br />
9.    Shizofrenia suatu gangguan psikosomatik</p>
<p>Prognosis, Secara umum mempertimbangkan hal-hal berikut  :<br />
1.    Kepribadian pre psikotik<br />
2.    Timbulnya serangan shizofrenia akut lebih baik<br />
3.    Jenis-jenis shizofrenia : jenis hebefrenik dan simpleks sama jeleknya, penderita menuju kearah kemunduran mental.<br />
4.    Umur :makin muda prognosis makin jelek<br />
5.    Pengobatan makin cepat makin baik<br />
6.    Fakktor pencetus : adanya factor pencetus lebih baik<br />
7.    Keturunan : dalam keluarga ada penderita lebih jelek.</p>
<p>Pengobatan :<br />
Prinsip pengobatan  skizofrenia katatonik sama pengobatan skizofrenia  secara umum  yaitu :<br />
1.    Farmakoterapi<br />
2.    Terapi elektorkonvulsi<br />
3.    Psikoterapi dan rehabilitasi<br />
4.    Hobotomi  pre frontal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/skizofrenia-katatonik.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perilaku Kekerasan</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/perilaku-kekerasan.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/perilaku-kekerasan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 12:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[info penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[cidera]]></category>
		<category><![CDATA[perilaku kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[predisposisi]]></category>
		<category><![CDATA[presipitasi]]></category>
		<category><![CDATA[resiko bunuh diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995.
Perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi, takut, manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995.<br />
Perilaku kekerasan/amuk dapat disebabkan karena frustasi, takut, manipulasi atau intimidasi. Perilaku kekerasan merupakan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. Perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian dan ketergantungan pada orang lain. Gejala klinis yang ditemukan pada klien dengan perilaku kekerasan didapatkan melalui pengkajian<span id="more-211"></span> meliputi :<br />
- Wawancara : diarahkan penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda marah yang diserasakan oleh klien.<br />
- Observasi : muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.</p>
<p>Faktor predisposisi<br />
Berbagai pengalaman yang dialami tiap orang mungkin menjadi faktor predisposisi yang mungkin/ tidak mungkin terjadi jika faktor berikut dialami oleh individu :<br />
Psikologis; kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk.<br />
Perilaku, reinforcement yang diteima ketika melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan, merupakan aspek yang menstimuli mengadopsi perilaku kekerasan<br />
Sosial budaya; budaya tertutup, control sosial yang tidak pasti terhadap perilaku kekerasan menciptakan seolah-olah  perilaku kekerasan diterima<br />
Bioneurologis; kerusakan sistem limbic, lobus frontal/temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiser</p>
<p>Faktor presipitasi<br />
Bersumber dari klien (kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan, percaya diri kurang), lingkungan (ribut, padat, kritikan mengarah penghinaan, kehilangan orang yang dicintai/pekerjaan dan kekerasan) dan interaksi dengan orang lain( provokatif dan konflik).</p>
<p>Untuk menegaskan keterangan diatas, pada klien gangguan jiwa, perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.</p>
<p>Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-tindakan berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah dll.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/perilaku-kekerasan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMERIKSAAN LEOPOLD</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pemeriksaan-leopold.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pemeriksaan-leopold.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 12:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[fisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[ANC]]></category>
		<category><![CDATA[denyut jantung janin]]></category>
		<category><![CDATA[leopold]]></category>
		<category><![CDATA[pelvimetri. tinggi fundus uteri]]></category>
		<category><![CDATA[presentasi bayi]]></category>
		<category><![CDATA[presentasi bokong]]></category>
		<category><![CDATA[presentasi kepala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu pemeriksaan yang dilakukan saat Ante Natal Care adalah pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan ini terdiri dari 4 tindakan yang masing-masing dilakukan untuk mengetahui presentasi bayi dalam rahim. Berikut dijelaskan gerakan-gerakan yang dilakukan saat pemeriksaan Leopold :
A. Leopold I
Mengetahui letak presentasi kepala dan bokong.
- menghadap ke kepala pasien gunakan ujung jari kedua tangan untuk mempalpasi fundus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu pemeriksaan yang dilakukan saat <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/antenatal-care.htm">Ante Natal Care</a> adalah pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan ini terdiri dari 4 tindakan yang masing-masing dilakukan untuk mengetahui presentasi bayi dalam rahim. Berikut dijelaskan gerakan-gerakan yang dilakukan saat pemeriksaan Leopold :</p>
<p>A. Leopold I<br />
Mengetahui letak presentasi kepala dan bokong.<br />
- menghadap ke kepala pasien gunakan ujung jari kedua tangan untuk mempalpasi fundus uteri.<br />
- apabila kepala janin teraba di bagian fundus, yang akan teraba adalah keras, <span id="more-208"></span>bulat dan mudah digerakkan dan &#8220;ballotable&#8221;.<br />
- apabila bokong janin teraba di bagian fundus, yang akan terasa adalah lembut, tidak beraturan, tidak rata, melingkar dan sulit digerakkan.<br />
B. Leopold II<br />
Maneuver ini untuk mengidentifikasi hubungan bagian tubuh janin ke depan, belakang atau sisi pelvis ibu.<br />
- menghadap ke kepala pasien, letakkan kedua tangan pada kedua sisi abdomen, pertahankan uterus dengan tangan yang satu dan palpasi sisi lain untuk menentukan lokasi punggung janin.<br />
- bagian punggung akan teraba jelas, rata, cembung, kaku/tidak dapat digerakkan. bagian-bagian kecil (tangan dan kaki) akan teraba kecil, bentuk / posisi tidak jelas dan menonjol, dan mungkin bisa bergerak pasif atau aktif.<br />
C. Leopold III<br />
Maneuver ini mengidentifikasikan bagian janin yang paling dekat dengan serviks. Bagian janin inilah yang pertama kali kontak dengan jari pada saat pemriksaan vagina, umumnya adalah kepala atau bokong. Langkah pemeriksaan :<br />
- letakkan tiga ujung jari kedua tangan pada kedua sisi abdomen pasien tepat diantara simphisis dan minta pasien untuk menarik nafas dan menghembuskannya. Pada saat pasien menghembuskan nafas, tekan jari tangan ke bawah secara perlahan dan dalam di sekitar bagian presentasi.<br />
D. Leopold IV<br />
Maneuver ini mengidentifikasi bagian terbesar dari ujung kepala janin yang dipalpasi di bagian sisi pelvis. Apabila posisi kepala fleksi ujung kepala adalah bagian depan kepala. Apabila posisi kepala ekstensi, ujung kepala adalah bagian oksiput. Langkah Pemriksaan :<br />
- menghadap ke kaki pasien. Secara perlahan gerakkan jari tangan ke sisi bawah abdomen ke arah pelvis hingga ujung jari salah satu tangan menyentuh tulang terakhir. Inilah ujung kepala. Jika bagian ujung terletak di bagian yang berlawanan dengan punggung, ini adalah pundak bayi dan kepala pada posisi fleksi. Jika kepala pada posisi ekstensi, ujung kepala akan terletak pada bagian yang sama dengan punggung dan bagian oksiput menjadi ujung kepala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/pemeriksaan-leopold.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
