<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; apatis</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/apatis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian II)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[aske dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demiensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien jiwa gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial pada penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan demensia]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan masalah psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[contoh proposal keperawatan jiwa strategi pelaksanaan keperawatan pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia pada keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang paling penting dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak tentang kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit dalam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal perawat]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal stres lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal tentang klasifikasi kanker rahim]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal; kebutuhan psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi depresi]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang gangguan kesadaran dan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam merawat pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan lansia oleh keluaraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.</p>
<p>Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian <span id="more-182"></span>Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-keseha…da-lanjut-usia.htm">Lansia</a> agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.</p>
<p>Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.</p>
<p>Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Referensi<br />
1. Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from</p>
<p>2. Harvey, R. J., Robinson, M. S. &amp; Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209.</p>
<p>3. Mace, N. L. &amp; Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.</p>
<p>4. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian I)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 02:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan tingkah laku pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pemicu keluarga lansia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[dementia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan jiwa pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[konsep askep pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang pemeriksaan fisik]]></category>
		<category><![CDATA[makalah demensia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kesehatan cara berkomunikasi dalam perawatan dengan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penyakit kejiwaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian keperawatan pada pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab,gejala dan pengertian dementia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologi kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[referat demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi dementia]]></category>
		<category><![CDATA[sikap empati dalam tahap pengkajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm">Demensia</a> bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.</p>
<p>Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, <span id="more-179"></span>penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.</p>
<p>Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.</p>
<p>Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.</p>
<p>Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian position mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.</p>
<p>Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemeriksaan Neurologis Fungsi Cerebral</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 04:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Abstensia drowsy]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud dengan compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud edward skor dalam bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[arti gcs]]></category>
		<category><![CDATA[arti koma]]></category>
		<category><![CDATA[arti somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[askep kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[cara pengkajian mata]]></category>
		<category><![CDATA[cara pengkajian neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[cara penilaian gcs]]></category>
		<category><![CDATA[compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[defenisi pengkajian]]></category>
		<category><![CDATA[definisi refleks]]></category>
		<category><![CDATA[definisi somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[definisi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[delirium]]></category>
		<category><![CDATA[derajat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[edward skor]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi status mental pada pasien gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[gcs]]></category>
		<category><![CDATA[gcs dlm bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[gcs glasgow coma scale]]></category>
		<category><![CDATA[gcs makna]]></category>
		<category><![CDATA[gcs pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[gcs pada somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[gcs untuk anak2]]></category>
		<category><![CDATA[Glasgow coma scale]]></category>
		<category><![CDATA[glasgow coma scale contoh]]></category>
		<category><![CDATA[glasgow coma scale or gcs dalam pengkajian]]></category>
		<category><![CDATA[interpretasi nilai gcs]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gangguan perilaku emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[kalimat baik]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran yang berhubungan dengan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[keterangan nilai gcs (glasgow coma scale)]]></category>
		<category><![CDATA[koma]]></category>
		<category><![CDATA[macam definisi kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[makalah apatis]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pemeriksaan fisik neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[mata]]></category>
		<category><![CDATA[motorik]]></category>
		<category><![CDATA[neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[nilai gcs]]></category>
		<category><![CDATA[nilai gcs normal]]></category>
		<category><![CDATA[nilai normal pemeriksaan nyeri]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan evaluasi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan gcs pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologi pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek dan tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan untuk koma]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian apatis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian edward skor]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian edward skor dalam bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian gcs]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian gcs dan evm]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian istilah edward score]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian koma]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian reaksi refleks]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian skor edward]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian status emosi]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[penilaian tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[somnolent]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[status mental]]></category>
		<category><![CDATA[stupor]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran manusia keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran somnolent]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran,koma,]]></category>
		<category><![CDATA[verbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm</guid>
		<description><![CDATA[Glasgow Coma Scale.Penilaian : * Refleks Membuka Mata (E) 4 : membuka secara spontan 3 : membuka dengan rangsangan suara 2 : membuka dengan rangsangan nyeri 1 : tidak ada respon * Refleks Verbal (V) 5 : orientasi baik 4 : kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan 3 : kata-kata baik tapi kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Glasgow Coma Scale.Penilaian :<br />
* Refleks Membuka Mata (E)<br />
  4 : membuka secara spontan<br />
  3 : membuka dengan rangsangan suara<br />
  2 : membuka dengan rangsangan nyeri<br />
  1 : tidak ada respon<br />
* Refleks Verbal (V)<br />
  5 : orientasi baik<br />
  4 : kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan<br />
  3 : kata-kata baik tapi kalimat tidak baik<br />
  2 : kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang<br />
  1 : tidak ada respon<br />
* Refleks Motorik (M)<br />
  6 : melakukan perintah dengan benar<br />
  5 : mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukan perintah dengan benar<br />
  4 : dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi.<br />
  3 : hanya dapat melakukan fleksi<br />
  2 : hanya dapat melakukan ekstensi<br />
  1 : tidak ada respon</p>
<p>cara penulisannya berurutan E-V-M sesuai nilai yang didapatkan. Penderita yang sadar = compos mentis pasti GCSnya 15 (4-5-6), sedang penderita koma dalam, GCSnya 3 (1-1-1). Bila salah satu reaksi tidak bisa dinilai, misal kedua mata bengkak sedang V dan M normal, penulisannya X-5-6.Bila ada trakheostomi sedang E dan M normal, penulisannya 4-X-6.Atau bila tetra parese sedang E dan V normal, penulisannya 4-5-X. GCS tidak bisa dipakai untuk menilai tingkat kesadaran pada anak berumur kurang dari 5 tahun. Atau jika ditotal skor GCS dapat diklasifikasikan :<br />
a. Skor 14-15 : compos mentis<br />
b. Skor 12-13 : apatis<br />
c. Skor 11-12 : somnolent<br />
d. Skor 8-10 : stupor<br />
e. Skor < 5 : koma</p>
<p>Derajat Kesadaran<br />
- Sadar : dapat berorientasi dan komunikasi<br />
- Somnolens <span id="more-116"></span> : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlelap lagi. Gelisah atau tenang.<br />
- Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala.<br />
- Semi Koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar (contoh menghindari tusukan).<br />
- Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus.</p>
<p>Kualitas Kesadaran<br />
- Compos mentis : bereaksi secara adekuat<br />
- Abstensia drowsy / kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. Perhatian terhadap sekeliling berkurang. Cenderung mengantuk.<br />
- Bingung / confused : disorientasi terhadap tempat, orang dan waktu.<br />
- Delirium : mental dan motorik kacau, ada halusinasi dan bergerak sesuai dengan kekacauan pikirannya.<br />
- Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa.</p>
<p>Gangguan fungsi cerebral meliputi : gangguan komunikasi, gangguan intelektual, gangguan perilaku dan gangguan emosi.</p>
<p>Pengkajian position mental / kesadaran meliputi : GCS, orientasi (orang, tempat dan waktu), memori, interpretasi dan komunikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 4/23 queries in 0.067 seconds using disk: basic
Object Caching 858/1049 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 22:43:13 -->
