<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; depresi</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/depresi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian II)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[aske dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demiensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien jiwa gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial pada penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan demensia]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan masalah psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[contoh proposal keperawatan jiwa strategi pelaksanaan keperawatan pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia pada keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang paling penting dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak tentang kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit dalam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal perawat]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal stres lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal tentang klasifikasi kanker rahim]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal; kebutuhan psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi depresi]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang gangguan kesadaran dan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam merawat pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan lansia oleh keluaraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.</p>
<p>Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian <span id="more-182"></span>Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-keseha…da-lanjut-usia.htm">Lansia</a> agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.</p>
<p>Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.</p>
<p>Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Referensi<br />
1. Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from</p>
<p>2. Harvey, R. J., Robinson, M. S. &amp; Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209.</p>
<p>3. Mace, N. L. &amp; Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.</p>
<p>4. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian I)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 02:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan tingkah laku pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pemicu keluarga lansia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[dementia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan jiwa pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[konsep askep pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang pemeriksaan fisik]]></category>
		<category><![CDATA[makalah demensia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kesehatan cara berkomunikasi dalam perawatan dengan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penyakit kejiwaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian keperawatan pada pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab,gejala dan pengertian dementia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologi kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[referat demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi dementia]]></category>
		<category><![CDATA[sikap empati dalam tahap pengkajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm">Demensia</a> bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.</p>
<p>Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, <span id="more-179"></span>penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.</p>
<p>Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.</p>
<p>Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.</p>
<p>Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian position mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.</p>
<p>Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jender dan Kesehatan Jiwa</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/jender-dan-kesehatan-jiwa.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/jender-dan-kesehatan-jiwa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 06:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[antisosial]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[jender]]></category>
		<category><![CDATA[jenis kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[KDRT]]></category>
		<category><![CDATA[laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata ada perbedaan jender dalam masalah kejiwaan. Pengamatan menunjukkan perempuan lebih sering datang meminta konsultasi psikologi.Perempuan lebih banyak menampilkan gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan somatisasi (tampilan gangguan fisik yang sesungguhnya menjadi manifestasi masalah kejiwaan), serta gangguan makan.Laki-laki lebih banyak menampilkan masalah alkoholisme dan obat, terlibat judi patologis, atau menunjukkan karakteristik pribadi paranoid (sangat pencuriga), antisosial [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata ada perbedaan jender dalam masalah kejiwaan. Pengamatan menunjukkan perempuan lebih sering datang meminta konsultasi psikologi.Perempuan lebih banyak menampilkan gangguan depresi, gangguan cemas, gangguan somatisasi (tampilan gangguan fisik yang sesungguhnya menjadi manifestasi masalah kejiwaan), serta gangguan makan.Laki-laki lebih banyak menampilkan masalah alkoholisme dan obat, terlibat judi patologis, atau menunjukkan karakteristik pribadi paranoid (sangat pencuriga), antisosial (melakukan tindakan merugikan orang lain), dan cenderung eksplosif-agresif.</p>
<p>Pembelajaran Biologis</p>
<p>Perbedaan hormonal mungkin menyebabkan laki-laki cenderung lebih agresif. Sementara itu, kurangnya kelekatan biologis dengan anak (karena tidak melahirkan) menyebabkan laki-laki cenderung kurang peduli kepada orang lain. <span id="more-136"></span>Ada yang bilang karakteristik reproduksi perempuan cenderung menyebabkan perempuan lebih mudah depresi. Buktinya ada fenomena baby blue atau depresi setelah melahirkan yang memang dialami sebagian perempuan.</p>
<p>Pengikut penjelasan belajar sosial mengatakan, perbedaan jender dalam kesehatan mental lebih disebabkan konstruksi sosial daripada bentukan lahir. Dalam kasus tertentu, ada laki-laki yang cenderung jadi egois, khususnya dalam berelasi dengan perempuan. Mungkin karena agen sosialisasi mengajarkannya perempuan lebih rendah dan menjadi pelengkap saja. Sementara itu, perempuan umumnya dituntut mengutamakan hubungan, perasaan, menjadi ”pendukung”, menomorsatukan pihak lain. Perempuan lebih sulit menemukan identitas yang mantap karena lebih sering dituntut menyesuaikan diri dengan ”pusat”-nya, yakni laki-laki.</p>
<p>Penjelasan interaksi menyatakan, dugaan adanya alasan biologis berpadu dengan pembelajaran atau konstruksi sosial. Misalnya, karakteristik reproduksi perempuan langsung tak langsung mendasari kecenderungan perempuan lebih peduli dan mengutamakan kepentingan orang lain karena ia terlatih membawa dan menjaga bayi dalam tubuhnya. Hal ini makin dikuatkan oleh pembelajaran sosial yang menyatakan: karena perempuan yang hamil dan melahirkan, ya perempuan juga yang harus mengurus anak.</p>
<p>Mengingat manusia merupakan makhluk sosial, tampaknya pembelajaran sosial menjadi alasan lebih kuat menjelaskan perbedaan jender dalam kesehatan jiwa. Karena laki-laki dituntut harus jadi pemimpin dalam rumah, (berarti) ia harus lebih hebat, (berarti pula) penghasilannya harus lebih besar dari istri. Bila itu tidak terjadi, ada mekanisme psikologis dalam dirinya yang menuntutnya meyakinkan diri bahwa ia lebih hebat. Maka ia mulai melarang istri bekerja, melarang istri bergaul dengan orang lain. Bila itu tidak mungkin (misal karena ia sendiri tidak bekerja), mungkin ia akan melakukan kekerasan fisik dan intimidasi. Terjadilah KDRT.</p>
<p>Diamati bahwa perempuan cenderung lebih depresif, sementara laki-laki melarikan diri pada obat, alkohol, atau jadi workaholic. Itu juga dapat diterangkan melalui penjelasan belajar sosial. Dalam depresi ada aspek emosional dan motivasional (mood rendah, hilang gairah, apatis), ada aspek penilaian atau kognitif (misalnya menilai diri rendah, tidak berharga, buruk, tak punya masa depan), juga aspek tingkah laku (misal: hilang minat, gangguan tidur, kelelahan intens).</p>
<p>Penjelasan belajar sosial menyatakan, tidak jarang perempuan disosialisasi untuk mengalahkan kepentingan pribadi, tidak bersikap asertif, menelan saja kekecewaannya, bahkan belajar ia ”tidak berdaya”. Karena tidak mampu mengemukakan kekecewaan dan kemarahannya, akhirnya itu ditelan dan diarahkan ke dalam. Ia jadi menilai dirinya negatif, tidak berguna, bodoh. Apalagi bila ia sudah telanjur tidak memenuhi tuntutan perempuan ideal.</p>
<p>Sementara itu, lebih banyak laki-laki lari menggunakan obat atau alkohol dan melakukan kekerasan karena dugaan dengan sosialisasi peran jender yang diterimanya, laki-laki dibiasakan lebih menimpakan kesalahan ke pihak di luar diri. Ia butuh obat untuk pelarian, dan KDRT atau tawuran juga menjadi cara melampiaskan kekesalan dan kegelisahan.</p>
<p>Peran Jender yang Luwes</p>
<p>Perempuan yang terlalu menginternalisasi peran feminin tradisional akan cenderung lebih mudah menyalahkan diri, menilai diri tidak kompeten, sulit mengambil keputusan. Ia tidak melihat dirinya sebagai subyek, melainkan sebagai obyek saja. Dapat dimengerti sebagian perempuan tidak mampu keluar dari situasi sangat tidak adil yang melingkupinya.</p>
<p>Laki-laki yang terlalu menginternalisasi peran maskulin tradisional sangat mudah merasa terancam, misalnya khawatir orang menyabot kedudukannya, atau istrinya akan merendahkannya. Ia menjadi mudah curiga, sibuk dengan diri sendiri, kurang mampu memahami kepentingan dan kebutuhan orang lain, bahkan melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Bila itu yang terjadi, bukan tidak mungkin terjadi kekerasan, apalagi pada orang-orang dekat, istri dan anak, yang dianggapnya berada di bawah kekuasaannya.</p>
<p>Intervensi psikologis perlu memfasilitasi dibukanya peran jender yang luwes pada perempuan dan laki-laki yang berimplikasi positif baik untuk keduanya. Laki-laki diajak mampu berbagi, mengakui perasaan sendiri, dan peduli. Sementara itu, perempuan dibantu menerima dan melihat sisi positif diri, bersikap adil pada diri, serta asertif dalam relasi dengan laki-laki dan orang lain umumnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/jender-dan-kesehatan-jiwa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penderita Gangguan Jiwa juga Manusia</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/penderita-gangguan-jiwa-juga-manusia.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/penderita-gangguan-jiwa-juga-manusia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 06:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[ansietas]]></category>
		<category><![CDATA[berapa data gangguan jiwa menurut who tahun 2010]]></category>
		<category><![CDATA[cara menyembuhkan penyakit jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[data jumlah orang gangguan jiwa diindonesia]]></category>
		<category><![CDATA[data jumlah penderita gangguan jiwa di indonesia 2010]]></category>
		<category><![CDATA[data penderita gangguan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[defensif]]></category>
		<category><![CDATA[definisi gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[depresif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan jiwa di indonesia 2010]]></category>
		<category><![CDATA[gila]]></category>
		<category><![CDATA[jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah penderita penyakit jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[maniak]]></category>
		<category><![CDATA[pandangan masyarakat tentang perawat]]></category>
		<category><![CDATA[penderita gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Kita mudah sekali mengklaim seseorang menderita gangguan jiwa. Padahal, definisi gangguan jiwa cukup rumit. Dalam klasifikasi yang dipakai di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa, terdapat lebih dari seratus penyakit akibat gangguan jiwa. Penggolongan ini penting karena tiap jenis gangguan mempunyai cara pengobatan tersendiri. Contoh gangguan jiwa adalah gangguan jiwa serius seperti skizofrenia dan maniak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mudah sekali mengklaim seseorang menderita gangguan jiwa. Padahal, definisi gangguan jiwa cukup rumit. Dalam klasifikasi yang dipakai di Indonesia, Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa, terdapat lebih dari seratus penyakit akibat gangguan jiwa.</p>
<p>Penggolongan ini penting karena tiap jenis gangguan mempunyai cara pengobatan tersendiri. Contoh gangguan jiwa adalah gangguan jiwa serius <span id="more-131"></span>seperti skizofrenia dan maniak depresif serta ansietas (kecemasan) dan depresi. Sebenarnya dalam tiap jenis gangguan terdapat variasi yang luas, dari yang ringan hingga yang berat, sehingga penyebutan untuk semua jenis gangguan jiwa dapat membuat salah pengertian dan menyesatkan.</p>
<p>Gangguan jiwa dapat memengaruhi fungsi kehidupan seseorang. Aktivitas penderita, kehidupan sosial, ritme pekerjaan, serta hubungan dengan keluarga jadi terganggu karena gejala ansietas, depresi, dan psikosis. Seseorang dengan gangguan jiwa apa pun harus segera mendapatkan pengobatan. Keterlambatan pengobatan akan semakin merugikan penderita, keluarga, dan masyarakat.</p>
<p>Gangguan jiwa dalam berbagai bentuk adalah penyakit yang sering dijumpai pada semua lapisan masyarakat. Penyakit ini dialami oleh siapa saja, bukan hanya mereka yang mapan. Prevalensi gangguan jiwa di negara sedang berkembang dan negara maju relatif sama.</p>
<p>Munculnya beragam pandangan keliru atau stereotip di masyarakat. Penderita gangguan jiwa sering digambarkan sebagai individu yang bodoh, aneh, berbahaya, dan terbelakang. Hal ini tentu akan melahirkan sikap keliru. Padahal, sebagai orang sakit, tentu penderita mengharapkan perhatian, kasih sayang, dan lainnya. Sayangnya, karena pandangan yang salah ini masyarakat akhirnya lebih mengolok-olok penderita, menjauhinya, bahkan sampai memasung karena menganggapnya berbahaya.<br />
Meski upaya ini tidaklah mudah, kepedulian tetap harus digalang. Sebab, mereka juga manusia yang memiliki hati dan perasaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/penderita-gangguan-jiwa-juga-manusia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 5/28 queries in 0.050 seconds using disk: basic
Object Caching 834/976 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 22:50:30 -->
