<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; disorientasi</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/disorientasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Delirium</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 03:08:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol dan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[alkohol menyebabkan subdural hematome]]></category>
		<category><![CDATA[arti delirium]]></category>
		<category><![CDATA[askep keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[askep keracunan makanan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep menarik diri pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada klien subdural hematoma]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien dengan keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien menarikdiri]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada klien dengan dehidrasi berat disertai delirium]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pasien dengan alkoholisme]]></category>
		<category><![CDATA[ciri ciri fisik kanker otak]]></category>
		<category><![CDATA[ciri-ciri penderi penyakit hidrosevalus]]></category>
		<category><![CDATA[definisi delirium akut]]></category>
		<category><![CDATA[delirium]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demam dan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fatofisiologi keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[fatofisiologi waham]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[hidrosefalus]]></category>
		<category><![CDATA[issue and trend keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[issue dan trend keperawatan maternity]]></category>
		<category><![CDATA[keracunan makanan definisi]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan klien dengan kanker otak]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan psikosa]]></category>
		<category><![CDATA[mekanisme amfetamin]]></category>
		<category><![CDATA[mekanismenya keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[mengobati infeksi otak]]></category>
		<category><![CDATA[meningitis]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi keracunan makanan]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan keracunan amfetamin]]></category>
		<category><![CDATA[penanggulangan penyakit hidrosefalus]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh obat demam terhadap gangguan delirium]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian keracunan]]></category>
		<category><![CDATA[psikosa]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[subdural hemtome pada orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[subdural otak]]></category>
		<category><![CDATA[terapi obat obatan keperawatan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[tumor otak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium. Penyebab delirium: # Alkohol, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Delirium adalah keadaan yang yang bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih.</p>
<p>Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium.</p>
<p>Penyebab delirium:<br />
# Alkohol, obat-obatan dan bahan beracun<br />
# Efek toksik dari pengobatan<br />
# Kadar elektrolit, garam dan mineral <span id="more-188"></span>(misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu<br />
# Infeksi akut disertai demam<br />
# Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana cairan yang membantali otak tidak diserap sebagaimana mestinya dan menekan otak<br />
# Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah di bawah tengkorak yang dapat menekan otak.<br />
# Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang menyerang otak)<br />
# Kekurangan tiamin dan vitamin B12<br />
# Hipotiroidisme maupun hipotiroidisme<br />
# Tumor otak (beberapa diantaranya kadang menyebabkan linglung dan gangguan ingatan)<br />
# Patah tulang panggul dan tulang-tulang panjang<br />
# Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di dalam darah<br />
# Stroke.</p>
<p>Ciri utama dari delirium adalah tidak mampu memusatkan perhatian.<br />
Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang baru saja terjadi.</p>
<p>Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan bingung dengan tempat dimana mereka berada.<br />
Fikiran mereka kacau, mengigau dan terjadi inkoherensia.</p>
<p>Pada kasus yang berat, penderita tidak mengetahui diri mereka sendiri.<br />
Beberapa penderita mengalami paranoia dan <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/delusi.htm" class="broken_link">delusi</a> (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh).</p>
<p>Respon penderita terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda; ada yang sangat tenang dan menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/persepsi-ilusi-dan-halusinasi.htm">halusinasi</a> maupun delusi yang dialaminya.</p>
<p>Jika penyebabnya adalah obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif.</p>
<p>Delirium bisa berlangsung selama berjam-jam, berhari-hari atau bahkan lebih lama lagi, tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita.</p>
<p>Delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal sebagai matahari terbenam). Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).</p>
<p>Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan sesegera mungkin ditentukan penyebabnya. Dilakukan pemeriksaan fisik lengkap dan dititikberatkan pada respon neurologis penderita. Pemeriksan lainnya yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan darah, rontgen dan pungsi lumbal.</p>
<p>Pengobatan tergantung kepada penyebabnya;<br />
- infeksi diatasi dengan antibiotik<br />
- demam diatasi dengan obat penurun panas<br />
- kelainan kadar garam dan mineral dalam darah diatasi dengan pengaturan kadar cairan dan garam dalam darah.</p>
<p>Untuk meringankan agitasi diberikan obat-obat benzodiazepin (misalnya diazepam, triazolam dan temazepam).</p>
<p>Obat anti-psikosa (misalnya haloperidol, tioridazin dan klorpromazin) biasanya diberikan hanya kepada penderita yang mengalami paranoid atau sangat ketakutan atau penderita yang tidak dapat ditenangkan dengan benzodiazepin.</p>
<p>Jika penyebabnya adalah alkohol, diberikan benzodiazepin sampai masa agitasi penderita hilang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2011/09/delirium.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian II)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[aske dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demiensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien jiwa gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial pada penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan demensia]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan masalah psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[contoh proposal keperawatan jiwa strategi pelaksanaan keperawatan pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia pada keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang paling penting dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak tentang kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit dalam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal perawat]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal stres lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal tentang klasifikasi kanker rahim]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal; kebutuhan psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi depresi]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang gangguan kesadaran dan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam merawat pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan lansia oleh keluaraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.</p>
<p>Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian <span id="more-182"></span>Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-keseha…da-lanjut-usia.htm">Lansia</a> agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.</p>
<p>Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.</p>
<p>Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Referensi<br />
1. Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from</p>
<p>2. Harvey, R. J., Robinson, M. S. &amp; Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209.</p>
<p>3. Mace, N. L. &amp; Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.</p>
<p>4. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian I)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 02:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan tingkah laku pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pemicu keluarga lansia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[dementia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan jiwa pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[konsep askep pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang pemeriksaan fisik]]></category>
		<category><![CDATA[makalah demensia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kesehatan cara berkomunikasi dalam perawatan dengan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penyakit kejiwaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian keperawatan pada pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab,gejala dan pengertian dementia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologi kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[referat demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi dementia]]></category>
		<category><![CDATA[sikap empati dalam tahap pengkajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm">Demensia</a> bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.</p>
<p>Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, <span id="more-179"></span>penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.</p>
<p>Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.</p>
<p>Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.</p>
<p>Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian position mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.</p>
<p>Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleks, Cara Pemeriksaan, dan Responnya</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/refleks-cara-pemeriksaan-dan-responnya.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/refleks-cara-pemeriksaan-dan-responnya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 22:58:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[acalculia]]></category>
		<category><![CDATA[achilles]]></category>
		<category><![CDATA[agraphia]]></category>
		<category><![CDATA[alexia]]></category>
		<category><![CDATA[apraxia]]></category>
		<category><![CDATA[arti dari dorsumpedis]]></category>
		<category><![CDATA[arti ipsi reflex]]></category>
		<category><![CDATA[arti patella]]></category>
		<category><![CDATA[arti pergelangan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[babinsky]]></category>
		<category><![CDATA[bagian dan fungsi patella]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa pengertian kontraksi]]></category>
		<category><![CDATA[biceps]]></category>
		<category><![CDATA[chadock]]></category>
		<category><![CDATA[cremaster]]></category>
		<category><![CDATA[defenisi siku]]></category>
		<category><![CDATA[definisi reflek hamer]]></category>
		<category><![CDATA[dinding perut]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[efek babinsky]]></category>
		<category><![CDATA[femoralis arti dan fungsi]]></category>
		<category><![CDATA[femoralis fungsi dan arti]]></category>
		<category><![CDATA[fingeragnosia]]></category>
		<category><![CDATA[fisiologi dan definisi bidan]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan pengertian reflex hammer]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dari femoralis]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi hammer]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi otot biceps]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi otot cluteus]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi otot tendon achilles]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi otot triceps]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi patella]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi reflek patella pada ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi reflex hammer]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi siku]]></category>
		<category><![CDATA[gluteal]]></category>
		<category><![CDATA[gonda]]></category>
		<category><![CDATA[gordon]]></category>
		<category><![CDATA[hoffman]]></category>
		<category><![CDATA[hoffman tromner reflex]]></category>
		<category><![CDATA[jenis refleks pada bayi]]></category>
		<category><![CDATA[kegunaan refleks hammer]]></category>
		<category><![CDATA[kegunaan reflex hammer]]></category>
		<category><![CDATA[klonus kaki]]></category>
		<category><![CDATA[klonus lutut]]></category>
		<category><![CDATA[leri]]></category>
		<category><![CDATA[leri and mayer sign]]></category>
		<category><![CDATA[macam suara ketukan tangan]]></category>
		<category><![CDATA[macam-macam reflek pada bayi]]></category>
		<category><![CDATA[mayer]]></category>
		<category><![CDATA[mendel-bechterew]]></category>
		<category><![CDATA[metode keperawatan lainnya]]></category>
		<category><![CDATA[oppenheim]]></category>
		<category><![CDATA[otot cremaster]]></category>
		<category><![CDATA[palmo-mental reflex]]></category>
		<category><![CDATA[patela]]></category>
		<category><![CDATA[patella]]></category>
		<category><![CDATA[patella adalah]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek anak]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek patella]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek patologis dan fisiologis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian kontraksi]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian kontraksi otot]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian lateral]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian lateral pada manusia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian patela hamer]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian patela hammer]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian refleks]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian refleks ekstensi]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian respon]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian tentang tendon]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan petalla]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dari periosteum]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit periosteum]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit persendian lutut atau patella]]></category>
		<category><![CDATA[periosteum]]></category>
		<category><![CDATA[periosto radialis]]></category>
		<category><![CDATA[periostoulnaris]]></category>
		<category><![CDATA[persendian pada ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[pronasi dalam bahasa kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[reflek gerakan pada bayi]]></category>
		<category><![CDATA[reflek patella]]></category>
		<category><![CDATA[reflek patologis dan fisiologis]]></category>
		<category><![CDATA[Refleks]]></category>
		<category><![CDATA[refleks gonda]]></category>
		<category><![CDATA[refleks gordon]]></category>
		<category><![CDATA[refleks pada bayi]]></category>
		<category><![CDATA[refleks patalogi]]></category>
		<category><![CDATA[refleks patologis]]></category>
		<category><![CDATA[refleks primitive]]></category>
		<category><![CDATA[refleks superficial]]></category>
		<category><![CDATA[reflex leri]]></category>
		<category><![CDATA[rossolimo]]></category>
		<category><![CDATA[schaefer]]></category>
		<category><![CDATA[snout reflex]]></category>
		<category><![CDATA[stransky]]></category>
		<category><![CDATA[sucking reflex]]></category>
		<category><![CDATA[superficial]]></category>
		<category><![CDATA[tendon]]></category>
		<category><![CDATA[triceps]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[a. Refleks Superficial - Refleks dinding perut : goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial. Respon : kontraksi dinding perut. - Refleks Cremaster : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah. Respon : elevasi testes ipsilateral. - Refleks Gluteal : goresan atau tusukan pada daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>a. Refleks Superficial<br />
- Refleks dinding perut : goresan dinding perut daerah epigastrik, supra umbilikal, umbilikal, intra umbilikal dari lateral ke medial. Respon : kontraksi dinding perut.<br />
- Refleks Cremaster : goresan pada kulit paha sebelah medial dari atas ke bawah. Respon : elevasi testes ipsilateral.<br />
- Refleks Gluteal : goresan atau tusukan pada daerah gluteal. Respon : gerakan reflektorik otot gluteal ipsilateral.<br />
b. Refleks Tendon / Periosteum<br />
- Refleks Biceps (BPR) : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah diketuk pada sendi siku. Respon : fleksi lengan pada sendi siku.<br />
- Refleks Triceps (TPR) : ketukan pada tendon otot triceps, <span id="more-122"></span> posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit pronasi. Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku.<br />
- Refleks Periosto Radialis : ketukan pada periosteum ujung distal os symmetric posisi lengan setengah fleksi dan sedikit pronasi. Respon : fleksi lengan bawah di sendi siku dan supinasi karena kontraksi m.brachiradialis.<br />
- Refleks Periostoulnaris : ketukan pada periosteum prosesus styloid ilna, posisi lengan setengah fleksi dan antara pronasi supinasi. Respon : pronasi tangan akibat kontraksi m.pronator quadrates.<br />
- Refleks Patela (KPR) : ketukan pada tendon patella dengan hammer. Respon : plantar fleksi longlegs karena kontraksi m.quadrises femoris.<br />
- Refleks Achilles (APR) : ketukan pada tendon achilles. Respon : plantar fleksi longlegs karena kontraksi m.gastroenemius.<br />
- Refleks Klonus Lutut : pegang dan dorong os patella ke arah distal. Respon : kontraksi reflektorik m.quadrisep femoris selama stimulus berlangsung.<br />
- Refleks Klonus Kaki : dorsofleksikan longlegs secara maksimal, posisi tungkai fleksi di sendi lutut. Respon : kontraksi reflektorik otot betis selama stimulus berlangsung.<br />
c. Refleks Patologis<br />
- Babinsky : penggoresan telapak longlegs bagian lateral dari posterior ke anterior. Respon : ekstensi ibu jari longlegs dan pengembangan jari longlegs lainnya.<br />
- Chadock : penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari posterior ke anterior. Respon : seperti babinsky.<br />
- Oppenheim : pengurutan krista anterior tibia dari proksimal ke distal. Respon : seperti babinsky.<br />
- Gordon : penekanan betis secara keras. Respon : seperti babinsky.<br />
- Schaefer : memencet tendon achilles secara keras. Respon : seperti babinsky.<br />
- Gonda : penekukan (plantar fleksi) maksimal jari longlegs ke-4. Respon : seperti babinsky.<br />
- Stransky : penekukan (lateral) jari longlegs ke-5. Respon : seperti babinsky.<br />
- Rossolimo : pengetukan ada telapak kaki. Respon : fleksi jari-jari longlegs pada sendi interfalangeal.<br />
- Mendel-Beckhterew : pengetukan dorsum pedis pada daerah os coboideum. Respon : seperti rossolimo.<br />
- Hoffman : goresan pada kuku jari tengah pasien. Respon : ibu jari, telunjuk dan jari lainnya fleksi.<br />
- Trommer : colekan pada ujung jari tengah pasien. Respon : seperti Hoffman.<br />
- Leri : fleksi maksimal tangan pada pergelangan tangan, sikap lengan diluruskan dengan bagian ventral menghadap ke atas. Respon : tidak terjadi fleksi di sendi siku.<br />
- Mayer : fleksi maksimal jari tengah pasien ke arah telapak tangan. Respon : tidak terjadi oposisi ibu jari.<br />
d. Refleks Primitive<br />
- Sucking Reflex : sentuhan pada bibir. Respon : gerakan bibir, lidah, dan rahang bawah seolah-olah menyusui.<br />
- Snout Reflex : ketukan pada bibir atas. Respon : kontraksi otot-otot disekitar bibir / di bawah hidung.<br />
- Grasps Reflex : penekanan jari pemeriksa pada telapak tangan pasien. Respon : tangan pasien mengepal.<br />
- Palmo-mental Reflex : goresan ujung pena terhadap kulit telapak tangan bagian thenar. Respon : kontraksi otot mentalis dan orbikularis oris (ipsi lateral).</p>
<p>Selain pemeriksaan tersebut di atas juga ada beberapa pemeriksaan lain yaitu pemeriksaan fungsi luhur :<br />
a. Apraxia : hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan volunter atas perintah.<br />
b. Alexia : ketidakmampuan mengenal bahasa tertulis.<br />
c. Agraphia : ketidakmampuan untuk menulis kata-kata.<br />
d. Fingdragnosia : kesukaran dalam mengenal, menyebut, memilih, dan membedakan jari-jari, baik punya sendiri maupun orang lain terutama jari tengah.<br />
e. Disorientasi kiri-kanan : ketidakmampuan mengenal sisi tubuh baik sendiri maupun orang lain.<br />
f. Acalculia : kesukaran dalam melakukan penghitungan aritmatika sederhana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/refleks-cara-pemeriksaan-dan-responnya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemeriksaan Neurologis Fungsi Cerebral</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 04:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Abstensia drowsy]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud dengan compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[apa yang dimaksud edward skor dalam bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[arti gcs]]></category>
		<category><![CDATA[arti koma]]></category>
		<category><![CDATA[arti somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[askep kekerasan anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[cara pengkajian mata]]></category>
		<category><![CDATA[cara pengkajian neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[cara penilaian gcs]]></category>
		<category><![CDATA[compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[defenisi pengkajian]]></category>
		<category><![CDATA[definisi refleks]]></category>
		<category><![CDATA[definisi somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[definisi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[delirium]]></category>
		<category><![CDATA[derajat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[edward skor]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[evaluasi status mental pada pasien gangguan jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[gcs]]></category>
		<category><![CDATA[gcs dlm bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[gcs glasgow coma scale]]></category>
		<category><![CDATA[gcs makna]]></category>
		<category><![CDATA[gcs pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[gcs pada somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[gcs untuk anak2]]></category>
		<category><![CDATA[Glasgow coma scale]]></category>
		<category><![CDATA[glasgow coma scale contoh]]></category>
		<category><![CDATA[glasgow coma scale or gcs dalam pengkajian]]></category>
		<category><![CDATA[interpretasi nilai gcs]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gangguan perilaku emosi anak]]></category>
		<category><![CDATA[kalimat baik]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran yang berhubungan dengan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[keterangan nilai gcs (glasgow coma scale)]]></category>
		<category><![CDATA[koma]]></category>
		<category><![CDATA[macam definisi kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[macam macam kekerasan pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[makalah apatis]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pemeriksaan fisik neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[mata]]></category>
		<category><![CDATA[motorik]]></category>
		<category><![CDATA[neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[nilai gcs]]></category>
		<category><![CDATA[nilai gcs normal]]></category>
		<category><![CDATA[nilai normal pemeriksaan nyeri]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan evaluasi status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan gcs pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologi pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan neurologis]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan reflek dan tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan untuk koma]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian apatis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian compos mentis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian edward skor]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian edward skor dalam bidang keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian gcs]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian gcs dan evm]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian istilah edward score]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian koma]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian reaksi refleks]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian skor edward]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian status emosi]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian neurologi]]></category>
		<category><![CDATA[penilaian tingkat kesadaran]]></category>
		<category><![CDATA[somnolen]]></category>
		<category><![CDATA[somnolent]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[status mental]]></category>
		<category><![CDATA[stupor]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran manusia keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran somnolent]]></category>
		<category><![CDATA[tingkat kesadaran,koma,]]></category>
		<category><![CDATA[verbal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm</guid>
		<description><![CDATA[Glasgow Coma Scale.Penilaian : * Refleks Membuka Mata (E) 4 : membuka secara spontan 3 : membuka dengan rangsangan suara 2 : membuka dengan rangsangan nyeri 1 : tidak ada respon * Refleks Verbal (V) 5 : orientasi baik 4 : kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan 3 : kata-kata baik tapi kalimat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Glasgow Coma Scale.Penilaian :<br />
* Refleks Membuka Mata (E)<br />
  4 : membuka secara spontan<br />
  3 : membuka dengan rangsangan suara<br />
  2 : membuka dengan rangsangan nyeri<br />
  1 : tidak ada respon<br />
* Refleks Verbal (V)<br />
  5 : orientasi baik<br />
  4 : kata baik, kalimat baik, tapi isi percakapan membingungkan<br />
  3 : kata-kata baik tapi kalimat tidak baik<br />
  2 : kata-kata tidak dapat dimengerti, hanya mengerang<br />
  1 : tidak ada respon<br />
* Refleks Motorik (M)<br />
  6 : melakukan perintah dengan benar<br />
  5 : mengenali nyeri lokal tapi tidak melakukan perintah dengan benar<br />
  4 : dapat menghindari rangsangan dengan tangan fleksi.<br />
  3 : hanya dapat melakukan fleksi<br />
  2 : hanya dapat melakukan ekstensi<br />
  1 : tidak ada respon</p>
<p>cara penulisannya berurutan E-V-M sesuai nilai yang didapatkan. Penderita yang sadar = compos mentis pasti GCSnya 15 (4-5-6), sedang penderita koma dalam, GCSnya 3 (1-1-1). Bila salah satu reaksi tidak bisa dinilai, misal kedua mata bengkak sedang V dan M normal, penulisannya X-5-6.Bila ada trakheostomi sedang E dan M normal, penulisannya 4-X-6.Atau bila tetra parese sedang E dan V normal, penulisannya 4-5-X. GCS tidak bisa dipakai untuk menilai tingkat kesadaran pada anak berumur kurang dari 5 tahun. Atau jika ditotal skor GCS dapat diklasifikasikan :<br />
a. Skor 14-15 : compos mentis<br />
b. Skor 12-13 : apatis<br />
c. Skor 11-12 : somnolent<br />
d. Skor 8-10 : stupor<br />
e. Skor < 5 : koma</p>
<p>Derajat Kesadaran<br />
- Sadar : dapat berorientasi dan komunikasi<br />
- Somnolens <span id="more-116"></span> : dapat digugah dengan berbagai stimulasi, bereaksi secara motorik / verbal kemudian terlelap lagi. Gelisah atau tenang.<br />
- Stupor : gerakan spontan, menjawab secara refleks terhadap rangsangan nyeri, pendengaran dengan suara keras dan penglihatan kuat. Verbalisasi mungkin terjadi tapi terbatas pada satu atau dua kata saja. Non verbal dengan menggunakan kepala.<br />
- Semi Koma : tidak terdapat respon verbal, reaksi rangsangan kasar dan ada yang menghindar (contoh menghindari tusukan).<br />
- Koma : tidak bereaksi terhadap stimulus.</p>
<p>Kualitas Kesadaran<br />
- Compos mentis : bereaksi secara adekuat<br />
- Abstensia drowsy / kesadaran tumpul : tidak tidur dan tidak begitu waspada. Perhatian terhadap sekeliling berkurang. Cenderung mengantuk.<br />
- Bingung / confused : disorientasi terhadap tempat, orang dan waktu.<br />
- Delirium : mental dan motorik kacau, ada halusinasi dan bergerak sesuai dengan kekacauan pikirannya.<br />
- Apatis : tidak tidur, acuh tak acuh, tidak bicara dan pandangan hampa.</p>
<p>Gangguan fungsi cerebral meliputi : gangguan komunikasi, gangguan intelektual, gangguan perilaku dan gangguan emosi.</p>
<p>Pengkajian position mental / kesadaran meliputi : GCS, orientasi (orang, tempat dan waktu), memori, interpretasi dan komunikasi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/glasgow-coma-scale.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 6/34 queries in 0.119 seconds using disk: basic
Object Caching 1317/1669 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-10 18:02:04 -->
