<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; gatal</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/gatal/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Menangani Cacar Air pada Anak</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/10/menangani-cacar-air-pada-anak.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/10/menangani-cacar-air-pada-anak.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 07:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep cacar air pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada anak dengan cacar air]]></category>
		<category><![CDATA[bintik bintik merah pd balita sakit panas]]></category>
		<category><![CDATA[bintik merah]]></category>
		<category><![CDATA[bintik merah di seluruh badan dan gatal]]></category>
		<category><![CDATA[cacar air]]></category>
		<category><![CDATA[cara mengurangi rasa gatal pada cacar air?]]></category>
		<category><![CDATA[cara penanganan cacar]]></category>
		<category><![CDATA[gatal]]></category>
		<category><![CDATA[kulit]]></category>
		<category><![CDATA[obat, gejala, ciri-ciri cacar air]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan penyakit cacar]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan]]></category>
		<category><![CDATA[penularan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit cacar pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[varicella zoster]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Anak yang terkena penyakit cacar air pasti merasa tersiksa karena seluruh tubuh terasa gatal dan biasanya dilarang bermain dengan teman-temannya. Lalu bagaimana menangani anak yang terkena cacar air agar tidak menulari yang lain? Penyakit cacar air adalah salah satu penyakit yang disebabkan virus Varicella zoster. Biasanya anak yang terkena cacar air harus beristirahat total setidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak yang terkena penyakit cacar air pasti merasa tersiksa karena seluruh tubuh terasa gatal dan biasanya dilarang bermain dengan teman-temannya. Lalu bagaimana menangani anak yang terkena cacar air agar tidak menulari yang lain?</p>
<p>Penyakit cacar air adalah salah satu penyakit yang disebabkan virus Varicella zoster. Biasanya anak yang terkena cacar air harus beristirahat total setidaknya 7 sampai 10 hari. Jika sedang sakit cacar air tubuh akan merasa panas <span id="more-102"></span> dan diikuti oleh hidung yang ingusan.</p>
<p>Anak yang mengalami cacar air biasanya terdapat ruam yang dimulai dengan titik merah lalu menjadi seperti bisul dan bintik merah ini akan bertambah banyak pada hari berikutnya. Bintik-bintik merah ini bisa saja berada di bagian mulut sehingga membuat nafsu makan berkurang, menyebabkan gatal yang membuat penderita ingin menggaruknya serta seringkali diikuti dengan badan meriang dan sakit kepala.</p>
<p>Cacar air merupakan penyakit menular dan biasanya baru akan terlihat setelah 13 hari sampai 17 hari saat orang tertular cacar air. Biasanya penularannya melalui udara saat penderita sedang batuk atau bersin atau bisa juga setelah bersentuhan dengan bintik yang berair tersebut. Namun jika seseorang terkena cacar air saat masih anak-anak, masa penyembuhannya relatif lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa.</p>
<p>Jika salah satu anak Anda terkena cacar air sebaiknya lakukan beberapa hal berikut ini, seperti dikutip dari Kidshealth, Senin (19/10/2009), yaitu:</p>
<p>   1. Sebaiknya tetap berada di rumah dan jangan pergi ke sekolah dahulu selama 5 hari setelah muncul bintik pertama.<br />
   2. Usahakan mengonsumsi air yang banyak terutama air dingin.<br />
   3. Jika terdapat bintik di daerah mulut, tidak ada salahnya untuk mengonsumsi es krim atau jeli.<br />
   4. Oleskan minyak atau krim yang dapat mengurangi rasa panas serta gatal, sehingga anak tidak mencoba untuk menggaruknya karena bisa bertambah parah dan menimbulkan bekas jika bintik tersebut digaruk.<br />
   5. Jika bintik tersebut sangat gatal dan membuat anak tidak bisa tidur, mintalah dokter untuk memberikan obat anti-histamin untuk membantu mengurangi rasa gatal.</p>
<p>Hal terpenting yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin mencegah anak menggaruk bintik tersebut dengan jarinya, karena bisa membuat bintik menjalar semakin banyak sehingga memperlama proses penyembuhannya. Serta usahakan jangan terlalu dekat dengan adik atau kakaknya, agar cacar air tersebut tidak menulari keduanya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/10/menangani-cacar-air-pada-anak.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keputihan atau Fluor Albus</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/10/keputihan-fluor-albus.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/10/keputihan-fluor-albus.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Oct 2009 04:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[apakah keluar cairan putih kuning tanda kehamilan?]]></category>
		<category><![CDATA[bau cairan kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[cairan berwarna kuning pada saat keputihan]]></category>
		<category><![CDATA[cairan dan perawat]]></category>
		<category><![CDATA[cairan encer kuning kehijauan berbau dari vagina]]></category>
		<category><![CDATA[cairan kental kuning dari vagina]]></category>
		<category><![CDATA[cairan putih kental di vagina]]></category>
		<category><![CDATA[cara membersihkan keputihan pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[flour albus]]></category>
		<category><![CDATA[fluor]]></category>
		<category><![CDATA[fluor adalah]]></category>
		<category><![CDATA[fluor albus]]></category>
		<category><![CDATA[fluor albus adalah]]></category>
		<category><![CDATA[fluor albus penanganan]]></category>
		<category><![CDATA[gatal]]></category>
		<category><![CDATA[gejala penyakit keputihan (fluor albus)]]></category>
		<category><![CDATA[jenis keputihan berwarna putih susu]]></category>
		<category><![CDATA[kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[keluar cairan kencing dr vagina]]></category>
		<category><![CDATA[keluar cairan kental berwarna kehijauan dari vagina]]></category>
		<category><![CDATA[keluar cairan putih susu di kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan (eluor albus)]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan bau dan berwarna kuning]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan berwarna kuning bau]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan fluor albus]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan kental dan putih]]></category>
		<category><![CDATA[keputihan saat kehamilan putih susu]]></category>
		<category><![CDATA[macam keputihan dan gatal pada kemaluan]]></category>
		<category><![CDATA[mengatasi keputihan yg sangat gatal]]></category>
		<category><![CDATA[obat antibiotika kutil kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[penanggulangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan keputihan (fluor albus)]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian flour albus]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian keputihan menurut]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit fluor albus]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit keputihan (fluour albus)]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit keputihan fluor albus]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab dan pengobatan fluor albus]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab kekuningan]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab vagina bau]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab vagina bau busuk]]></category>
		<category><![CDATA[vagina]]></category>
		<category><![CDATA[vagina bau amis dengan cairan kental berwarna kekuningan]]></category>
		<category><![CDATA[vagina keluar keputihan nanah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita. Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil.</p>
<p>gejala keputihan<br />
- Keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan kadang-kadang berbusa. Mungkin gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid pada wanita tertentu.<br />
- Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya.</p>
<p>Biasanya keputihan yang normal <span id="more-74"></span>tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.<br />
* Pada bayi perempuan yang baru lahir, dalam waktu satu hingga sepuluh hari, dari vaginanya dapat keluar cairan akibat pengaruh hormon yang dihasilkan oleh plasenta atau uri.<br />
* Gadis muda terkadang juga mengalami keputihan sesaat sebelum masa pubertas, biasanya gejala ini akan hilang dengan sendirinya.</p>
<p>penyebab keputihan<br />
Dengan memperhatikan cairan yang keluar, terkadang dapat diketahui penyebab keputihan.<br />
* Infeksi kencing nanah, misalnya, menghasilkan cairan kental, bernanah dan berwarna kuning kehijauan.<br />
* Parasit Trichomonas Vaginalis menghasilkan banyak cairan, berupa cairan encer berwarna kuning kelabu.<br />
* Keputihan yang disertai bau busuk dapat disebabkan oleh kanker.<br />
* Kelelahan yang sangat berat.</p>
<p>Infeksi akibat kuman (bakteri), misalnya akibat;<br />
* Gonococcus, atau lebih dikenal dengan nama GO. Warnanya kekuningan, yang sebetulnya merupakan nanah yang terdiri dari sel darah putih yang mengandung kuman Neisseria gonorrhoea. Kuman ini mudah mati setelah terkena sabun, alkohol, deterjen, dan sinar matahari. Cara penularannya melalui senggama.<br />
* Chlamydia trachomatis, kuman ini sering menyebabkan penyakit mata trakhoma. Ditemukan di cairan vagina dengan pewarnaan Diemsa.<br />
* Gardenerella, menyebabkan peradangan vagina tak spesifik. Biasanya mengisi penuh sel-sel epitel vagina berbentuk khas clue cell. Menghasilkan asam amino yang akan diubah menjadi senyawa amin bau amis, berwarna keabu-abuan.<br />
* Treponema pallidium, adalah penyebab penyakit kelamin sifilis. Penyakit ini dapat terlihat sebagai kutil-kutil kecil di liang senggama dan bibir kemaluan.<br />
* Infeksi akibat jamur biasanya disebabkan spesies candida. Cairannya kental, putih susu (sering berbentuk kepala susu), dan gatal. Vagina menjadi kemerahan akibat radang. Predisposisinya adalah kehamilan, Diabetes melitus, akseptor pil KB.</p>
<p>Parasit penyebab keputihan terbanyak adalah Trichomonas vaginalis. Cairannya banyak, berbuih seperti air sabun, bau, gatal, vulva kemerahan, nyeri bila ditekan atau perih saat buang air kecil. Sementara keputihan akibat virus disebabkan Human Papiloma Virus (HPV) dan Herpes simpleks.</p>
<p>Penanggulangan Keputihan</p>
<p>Pemeriksaan dokter baiknya segera dilakukan bila keputihan mulai menyerang Anda. Tujuannya: Menentukan letak dari bagian yang sakit, dalam hal ini mencari darimana keputihan itu berasal.</p>
<p>* Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu untuk mendapatkan gambaran alat kelamin yang lebih baik, seperti melakukan pemeriksaan kolposkopi yang berupa alat optik untuk memperbesar gambaran leher rahim, liang senggama dan bibir kemaluan.<br />
* Merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan.</p>
<p>Lalu, bagaimana pengobatan yang rasional untuk mengatasi keputihan? Beberapa cara dapat dilakukan, yaitu sebagai penawar saja, obat pemusnah atau pemungkas, dan melakukan penghancuran lokal pada kutil leher rahim, liang senggama, bibir kemaluan, atau melakukan pembedahan.</p>
<p>Obat-obat penawar misalnya Betadine vaginal kit, Intima, Dettol, yang sekadar membersihkan cairan keputihan dari liang senggama, tapi tidak membunuh kuman penyebabnya. Selain itu dapat dilakukan penyinaran dengan radioaktif atau penyuntikan sitostatika. Sedangkan obat pemunah misalnya vaksinasi, tetrasiklin, penisilin, thiamfenikol, doksisiklin, eritromisin, dsb.</p>
<p>Sementara penghancuran lokal dan pembedahan berupa pengangkatan sebagian jaringan leher rahim, dengan menggunakan kawat berlubang yang dialiri listrik atau dipancung berbentuk kerucut ke bawah menggunakan pisau bedah yang disebut konisasi.</p>
<p>Atau bisa dilakukan pengangkatan seluruh badan kandungan yang disebut histerektomia (jika ada prakanker leher rahim, atau kanker leher rahim).</p>
<p>Nah, banyak juga keputihan yang membandel. Karena itu, lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Dalam kasus keputihan, pencegahan bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan alat pelindung (kondom), pemakaian obat atau cara profilaksis (pemakaian obat antibiotika disertai dengan pengobatan terhadap jasad renik penyebab penyakit), dan melakukan pemeriksaan dini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/10/keputihan-fluor-albus.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>skabies</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/09/skabies.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/09/skabies.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 15:30:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[askep scabies]]></category>
		<category><![CDATA[cara inspeksi dan palpasi dalam melakukan pemeriksaan alat kelamin oleh perawat]]></category>
		<category><![CDATA[cara pemeliharaan alat alat keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[definisi kutu kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[definisi scabies]]></category>
		<category><![CDATA[definisi skabes]]></category>
		<category><![CDATA[gatal]]></category>
		<category><![CDATA[gatal karena kutu]]></category>
		<category><![CDATA[gatal pada tangan dan kaki karena kutu kasur]]></category>
		<category><![CDATA[kelainan atau penyakit berhubungan dengan jaringan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[kulit anjing gatal]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan skabies]]></category>
		<category><![CDATA[manifestasi klinik dan patofisiologis kurap]]></category>
		<category><![CDATA[merah]]></category>
		<category><![CDATA[palpasi dan inspeksi pada alat kelamin pria]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi,etiologi dan penanganan,terapi pada kaki diabetik]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksa fisik head to toe penyakit dalam kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik head to toe]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik kepala sampai kaki]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik palpasi pada genetalia pria]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik rambut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan head to toe pada pasien dengan penyakit kelamin]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang ketombe]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang kutu rambut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang untuk kutu rambut]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang untuk resiko infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan terowongan scabies]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan ttv]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksan fisik head to toe]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan skabies terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian fisik kepala]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit kulit]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit scabies pada manusia]]></category>
		<category><![CDATA[skabies]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[tinjauan asuhan keperawatan kanker paru]]></category>
		<category><![CDATA[tungau]]></category>
		<category><![CDATA[ubat makan penyakit scabies pada manusia]]></category>
		<category><![CDATA[warna alami kulit di area kelamin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[LANDASAN TEORI A. Definisi Skabies Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sinnim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo. Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>LANDASAN TEORI</p>
<p>A.	Definisi Skabies<br />
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestisasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Sinnim dari penyakit ini adalah kudis, the itch, gudig, budukan, dan gatal agogo. Penyakit scabies ini merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes scabei tersebut, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 centimeter. Akibatnya, penyakit ini menimbulkan rasa gatal yang panas dan edema yang disebabkan oleh garukan. Kutu betina dan jantan berbeda. Kutu betina panjangnya 0,3 sampai 0,4 milimeter dengan empat pasang kaki, dua pasang di depan dengan ujung alat penghisap dan sisanya di belakang berupa alat tajam. Sedangkan, untuk kutu jantan, memiliki ukuran setengah dari betinanya. Dia akan mati setelah kawin. Bila kutu itu membuat terowongan dalam kulit, tak pernah membuat jalur yang bercabang.</p>
<p>Di dalam terowongan ini, kutu bersarang dan mengeluarkan telurnya. Dalam waktu tujuh sampai 14 hari, telur menetas dan membentuk larva yang dapat berubah menjadi nimfa, selanjutnya terbentuk parasit dewasa. Hal yang paling disukai kutu betina adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, yaitu daerah sekitar sela jari longlegs dan tangan, siku, pergelangan tangan, bahu, dan daerah kemaluan. Pada bayi yang memiliki kulit serba tipis, telapak tangan, kaki, muka, dan kulit kepala sering diserang kutu tersebut.</p>
<p>Faktor penunjang penyakit ini antara lain social ekonomi rendah, hygiene buruk, <span id="more-61"></span>sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografis serta ekologik. Penularan penyakit skabies inidapat terjadi scara langsung maupun tidak langsung, karenanya tak heran jika penyakit gudik (skabies) dapat dijumpai di sebuah keluarga, di kelas sekolah, di asrama, di pesantren. Adapun cara penularannya adalah sebagai berikut :<br />
- Kontak langsung (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual.<br />
- Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.<br />
Penularan biasanya oleh sarcoptes betina yang telah dibuahi atau dalam bentuk larva. Dikenal juga dengan Sarcoptes scabei varian animals yang kadang- kadang dapat menulari manusia, terutama pada orang yang memelihara hewan seperti anjing.<br />
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan, atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama disatu tempat yang relative sempit. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang, kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan terutama masalah penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan program kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada. Penularan scabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat tidur yang sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, serta fasiltas-fasilitas kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman terjadi peningkatan insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti tidur bersama. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di lingkungan padat penduduk. Dibeberapa sekolah didapatkan kasus pruritus selama beberapa bulan yang sebagian dari mereka telah mendapatkan pengobatan skabisid.<br />
Pengklasifikasian dari skabes ini terbagi atas :<br />
- Scabies pada orang bersih, yaitu ditandai dengan lesi berupa papul dn terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga jarang dijumpai.<br />
- Scabies nodular, yaitu lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genetala laki-laki. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensitivitas terhadap tungau scabies.<br />
- Scabies yang ditularkan melalui hewan,yaitu sumber utamanya adalah anjing, kelainan ini berbeda dengan scabies manusia karena tidak terdapat terowongan, tidak menyeang sela jari dan genetalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang sering kontak dengan binatang kesayangannya. Kelainan ini hanya bersifat sementara karena kutu binatang tidak dapat melanutkan siklus hidupnya pada manusia.<br />
- Scabies pada bayi dan anak, yaitu lesi scabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk seluruh kepala, leher, telapak tangan dan kaki, dan sering trjadi infeksi sekunder impetigo sehingga terowomgan jarang ditemukan.<br />
- Scabies terbaring ditempat tidur, yaitu kelainan yang sering menyerang pada penderita penyakit kronis dan pada orang yang lanut usia yang terpaksa harus tinggal ditempat tidur terus. Sehingga orang itu dapat menderita scabies dengan lesi yang terbatas.<br />
- Scabies Norwegia atau scabies krustosa, ini ditandai oleh lesi yang luas dengan krusta,skuama generaisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predleksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga, bokong,siku, lutut, telapak tangan dan longlegs yang disertai distrofi kuku, namun rasa gatal tidak terlalu menonjl tetapi sangat menular karena jumlah tungau yang menginfeksi sangat banyak (ribuan).</p>
<p>B.	Etiologi Skabies<br />
Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman sercoptes scabei varian hominis. Sarcoptes scabieiini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Kecuali itu terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi. Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2pasang longlegs di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2pasang longlegs kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan longlegs ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8-12 hari. Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari.Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang penyakit skabies ini.</p>
<p>C.	Manifestasi klinis<br />
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut :<br />
- Pruritus nktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lembab dan panas.<br />
- Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seliruhanggota eluarga.<br />
- Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada uung menjadi pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tpis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak longlegs bahkan seluruh permukaan ulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala dan wajah.<br />
- Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostk. Dapat ditemikan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.<br />
Pada pasien yang selalu menjaga hgiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadang kala sulit ditegakkan. Jia penyakit berlangsung lama, dapat tmbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulsis.</p>
<p>D.	Patofisiologi Skabies<br />
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan leh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat it kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemuannya papul, vesikel, dan urtika. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.</p>
<p>E.	Pemeriksaan penunjang<br />
Cara menemukan tungau :<br />
- Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesiel. Congkel dengan jarum dan letakkan diatas kaca obyek, lalu tutup dengan aca penutup dan lhat dengan mikroskop cahaya.<br />
- Dengan cara menyikat dengan siat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.<br />
- Dengan membuat bipsi irisan, caranya ; jepit lesidengan 2 jari kemudian buat irisa tipis dengan pisau dan periksa dengan miroskop cahaya.<br />
- Dengan biopsy eksisional dan diperiska dengan pewarnaan HE.</p>
<p>F.	Penatalaksanaan<br />
Syarat obat yang saint adalah efektif terhadap semua stadium tungau, tidak menimbulkan iritasi dan toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh dan harganya murah.<br />
Jenis obat topical :<br />
- Belerang endap (sulfur presipitatum) 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Pada bayi dan orang dewasa sulfur presipitatum 5% dalam minyak sangat aman dan efektif. Kekurangannya adalah pemakaian tidak boleh kurang dari 3 hari karena tidak efektif terhadap stadium telur, berbau, mengotori pakaian dan dapat menimbulkan iritasi.<br />
- Emulsi benzyl-benzoat 20-25% efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.<br />
- Gama benzena heksa klorida (gameksan) 1% daam bentuk krim atau losio, termasuk obat pilihan arena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianurkan pada anak dibawah umur 6 tahun dan wanta hamil karena toksi terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cup sekali dalam 8 jam. Jika masihada gejala, diulangi seminggu kemudian.<br />
- Krokamiton 10% dalamkrim atau losio mempunyaidua efek sebagai antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. Krim( eurax) hanya efetif pada 50-60% pasien. Digunakan selama 2 malam berturut-turut dan dbersihkan setelah 24 wad pemakaian terakhir.<br />
- Krim permetrin 5% merupakan obat yang paling efektif dan aman arena sangat mematikan untuk parasit S.scabei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.<br />
- Pemberian antibitika dapat digunakan jika ada infeksi sekunder, misalnya bernanah di area yang terkena (sela-sela jari, alat kelamin) akibat garukan.</p>
<p>TINJAUAN KASUS<br />
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S<br />
DENGAN SKABIES<br />
DI BANGSAL ………………., RS ………………..</p>
<p>A.	Pengkajian</p>
<p>Pengkajian dilaksanakan di bangsal bedah :</p>
<p>I.	Biodata<br />
a.	Identitas pasien<br />
Nama 			: Tn. K<br />
TTL			: -<br />
Umur 			: -<br />
Jenis kelamin 		: laki-laki<br />
Alamat			: -<br />
Agama  		: -<br />
Suku 			: -<br />
Pendidikan 		: -<br />
Diagnosa medis	: Skabies</p>
<p>b.	Identitas penanggungjawab<br />
Nama 			: Ny. S<br />
TTL			: -<br />
Umur 			: -<br />
Jenis kelamin 		: perempuan<br />
Alamat			: -<br />
Agama  		: -<br />
Suku 			: -<br />
Pendidikan 		: -<br />
Hub. dengan pasien 	: istri</p>
<p>II.	Riwyat kesehatan<br />
a.	Keluhan utama<br />
Pada pasien scabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan merasakan gatal terutama pada malam hari.<br />
b.	Riwayat kesehatan sekarang<br />
Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi edema karena garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.<br />
c.	Riwayat kesehatan dahulu<br />
Pasien pernah masuk Rs karena alergi<br />
d.	Riwayat kesehatan keluarga<br />
Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang klien alami yaitu kurap, kudis.</p>
<p>III.	Pola fungsi kesehatan<br />
a.	Pola persepsi terhadap kesehatan<br />
Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat atauapabila tidak terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS terdekat.</p>
<p>b.	Pola aktivitas latihan<br />
Aktivitas latihan selama sakit :<br />
Aktivitas	0	1	2	3	4<br />
Makan<br />
Mandi<br />
Berpakaian<br />
Eliminasi<br />
Mobilisasi di tempat tidur</p>
<p>Keterangan<br />
0	: Mandiri<br />
1	: Dengan menggunakan alat bantu<br />
2	: Dengan menggunakan bantuan dari orang lain<br />
3	: Dengan bantuan orang lain dan alat bantu<br />
4	: Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas</p>
<p>c.	Pola istirahat tidur<br />
Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat pada malam hari.</p>
<p>d.	Pola nutrisi metabolik<br />
Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.</p>
<p>e.	Pola elimnesi<br />
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau khas dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.</p>
<p>f.	Pola kognitif perceptual<br />
Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan normal.</p>
<p>g.	Pola peran hubungan<br />
1.	status perkawinan : menikah<br />
2.	Pekerjaan	: petani<br />
3.	kualitas aktivitas	:sebelum sakit klien rajin ke sawah untuk   menggarap sawahnya<br />
4.	Sistem dukungan 	: istri dan anaknya</p>
<p>h.	Pola nilai dan kepercayaan<br />
Klien beragama islam, ibadah dilakukan secara rutin.</p>
<p>i.	Pola konep diri<br />
1.	Harga diri 	: tidak terganggu<br />
2.	Ideal diri	: tidak terganggu<br />
3.	Identitas diri	: terganggu, karena merasa malu akibat penyakit yang dideritanya<br />
4.	Gambaran diri	: tidak terganggu<br />
5.	Peran diri	: tidak terganggu</p>
<p>j.	Pola seksual reproduksi<br />
Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.</p>
<p>k.	Pola koping<br />
1.	Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien menjadi malas untuk bekerja.<br />
2.	Kehilangan atau perubahan yang terjadi<br />
perubahan yang terjadi klien malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.<br />
3.	Takut terhadap kekerasan : tidak<br />
4.	Pandangan terhadap masa depan<br />
klien optimis untuk sembuh</p>
<p>IV.	PEMERIKSAAN FISIK<br />
a.	Tanda-tanda vital<br />
Suhu 	: ? 36ºC<br />
Nadi 	: ? 70 x/menit<br />
TD		: systole ? 110mmHg, diastole ? 60 mmHg<br />
RR		: ? 16 x/menit<br />
b.	Keadaan umum<br />
Keadaan umum tergantung pada berat ringannya penyakit yang dialami oleh klien dari kmposmentis apatis, samnolen, delirium, spoor, dan koma.<br />
c.	Pemeriksaan Head to Toe<br />
1.	Kulit dan rambut<br />
- Inspeksi	:<br />
Warna kulit		: normal, ada lesi<br />
Jumlah rambut	: lebat, tidak rontok<br />
Warna rambut 	: hitam<br />
Kebersihan rambut	: krang bersih, ada ketombe<br />
- Palpasi	:<br />
Suhu ? 36ºC<br />
Warna kulit sawo matang, turgor kuit baik, kulit lembab, ada edema, ada lesi.<br />
2.	Kepala<br />
- Inspeksi	:<br />
?	Bentuk simetris antara kanan dan kiri<br />
?	Bentuk kepala lonjong, tidak ada lesi<br />
- Palpasi 	:<br />
Tidak ada nyeri tekan<br />
3.	Mata<br />
- Inspeksi	 : bentuk bola mata bulat, simetris antara kanan dan kiri, sklera berwarna putih, kkonjungtiva merah muda.<br />
4.	Telinga<br />
- Inspeksi	: ukuran sedang, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen pada lubang telinga<br />
- Palpasi 	: tidak ada benjolan<br />
5.	Hidung<br />
- Inspeksi 	: simetris, tidak ada secret, tidak ada lesi<br />
- Palpasi	: tidak ada benjolan<br />
6.	Mulut<br />
- Inspeksi	: bentuk mulut simetris, lidah bersih gigi bersih<br />
7.	Leher<br />
- Inspeksi	: bentuk leher nrmal, tidak ada pembesaran kelenar  tiroid<br />
- Palpasi 	: suara jelas, tidak sesak<br />
8.	Paru<br />
- Inspeksi	: simetris antara kanan dan kiri<br />
- Palpasi	: getaran rocal femitus sama antara kanan dan kiri<br />
- Perusi	: resonan<br />
- Auskultasi 	: normal<br />
9.	Abdomen<br />
- Inspeksi	: perut datar, simetris<br />
- Palpasi	: getaran rocal femitus sama antara kanan dan kiri<br />
10.	Ekstermitas<br />
- Atas	: lengkap, tidak ada kelainan<br />
- Bawah 	: lengap normal</p>
<p>B.	Diagnosa keperawatan<br />
1.	Data focus<br />
Data objektif :<br />
?	Badan pasien teraba hangat<br />
?	Klien tampak gelisah<br />
?	Klien tampak cemas<br />
?	Klien tampak menahan gatal<br />
?	Klien tampak<br />
?	Klien merasa malu dengan penyakit yang dialaminya<br />
?	Kantung mata klien terlihat bengkak<br />
?	Klien sering terbangun dimalam hari karena gatal<br />
?	Adanya luka dengan pussycat dikulit<br />
?	Terdapat eritem (kulit kemerahan)<br />
?	Adanya lesi dikulit<br />
?	Suhu 	: ? 36ºC<br />
?	Nadi 	: ? 70 x/menit<br />
?	TD 	: systole ? 110mmHg, diastole ? 60 mmHg<br />
?	RR 	: ? 16 x/meni</p>
<p>ANALISA DATA</p>
<p>Nama	: Tn. K</p>
<p>Symtom	Problem	Etiologi<br />
1	Do :- Suhu ?36ºC<br />
- Adanya puss<br />
- Adanya eritem (kulit merah)<br />
Nyeri akut	Agen cidera biologi<br />
2	Do : &#8211; klien sering terbangun dimalam hari karena gatal<br />
- kantung mata klien terlihat bengkak<br />
Gangguan pola tidur	Nyeri<br />
3	Do :- klien merasa malu dengan penyakit yang dialaminya	Gangguan citra tubuh	Perubahan dalam penampilan sekunder<br />
4	Do :- klien tampak resah<br />
- klien tampak gelisah	Cemas	Perubahan position kasehatan<br />
5	Do :- terdapat luka dengan adanya pussycat dikulit	Resiko infeksi<br />
Jaringan kulit rusak dan prosedur infasif<br />
6	Do :-  adanya lesi<br />
- adanya lua dengan pussycat dikulit	Kerusakan integritas kulit	Edema</p>
<p>Diagnosa Keperawatan dan Prioritas Masalah<br />
1.	Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biolgi<br />
2.	Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri<br />
3.	Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampian sekunder<br />
4.	Cemas berhubungan dengan perubahan position kesehatan<br />
5.	resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kuit rusak dan prosedur infasif<br />
6.	Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema</p>
<p>PERENCANAAN<br />
No Dx	Tujuan dan karakteristik	Intervensi	Rasional<br />
1.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X24jam, diharapkan nyeri klien dapat teratasi dengan KH:<br />
-	nyeri terkontrol<br />
-	gatal mulai hilang<br />
-	puss hilang<br />
-	kulit tidak memerah	-	kaji TTV<br />
-	kaji intensitas nyeri, karakteristik dan catat lokasi<br />
-	berikan perawatan kulit dengan sering, hilangkan rangsangan lingungan yang kurang menyenangkan<br />
-	kolaborasi dengan dokter pemberi analgesic<br />
-	koaborasi pemberian antibiotika<br />
2.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X24jam diharapkan tidur klien tida terganggu dengan KH :<br />
-	mata klien tidak bengkak lagi<br />
-	klien tidak sering terbangun dimalam hari<br />
-	klien tidak pucat 	-	kaji tidur klien<br />
-	berikan kenyamanan pada klien (kebersihan tempat tidur klien)<br />
-	klaborasi dengan dokter pemberia analgeti<br />
-	catat banyaknya klien terbangun dimalam hari<br />
-	berika lingkungan yang nyamandan kurangi kebisingan<br />
-	berikan minum hangat (susu) jika perlu<br />
-	beian musik klasik sebagai pengantar tidur<br />
3.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X24jam diharapkan klien tidak mengalami gangguan dalam cara penerapan citra diri dengan KH :<br />
-	mengungkapan penerimaan atas penyakit yang di alaminya<br />
-	mengakui dan memantapkan kembali system dukungan yang ada<br />
-		-	Dorong individu untuk mengekspresian perasaan khususnya mengenai pikiran, pandangan dirinya<br />
-	Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah penanganan, perkembangan kesehatan<br />
-<br />
4.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X24jam diharapkan klien tidak cemas lagi dengan KH :<br />
-	Klien tidak resah<br />
-	Klien tampak tenang dan mampu menerima kenyaataan<br />
-	Lien mampu mengidentifiasi dan mengungkapkan gejala cemas<br />
-	Postur tubuh ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan bekurangnya kecemasan<br />
-	Identifiasi kecemasan<br />
-	Gunakan pendekatan yang menenangan<br />
-	Temani pasien untuk memberian keamanan dan mengurangi takut<br />
-	Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan<br />
-	Berikan informasi faktual tentang diagnosis, tindakan prognosis<br />
-	Berikan obat untuk mengurangi kecamasan</p>
<p>5.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. X24jam diharapkan klien tidak terjadi resiko infeksi dengan KH :<br />
-	Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi<br />
-	Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi<br />
-	Menunjukkan perilaku hidup sehat<br />
-	Mendeskripsikan proses penularan penyakit, bourgeois yang mempengaruhi penularan dan penatalaksanaannya	-	Monitor tanda dan gejala infeksi<br />
-	Monitor kerentanan terhadap infeksi<br />
-	Batasi pengunjung bila perlu<br />
-	Instruksikan pada pengunjung untk mencuci tangan saatberkunjung dan setelah meninggalkan pasien<br />
-	Pertahankan lingkngan aseptic selama pemasangan alat<br />
-	Berikan perawatan kulit pada area epidema<br />
-	Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan,panas<br />
-	Inspeksi kondisi luka<br />
-	Berikan terapi anibiotik bila perlu<br />
-	Ajarkan cara menghindari infeksi<br />
6.	Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan elama …. X24jam diharapkan lapisan kulit klien terlihat normal, dengan KH :<br />
-	Integritas kulit yang bak dapat dipetahankan (sensasi, elastisitas, temperatur)<br />
-	Tidak ada luka atau lesi pada kulit<br />
-	Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit serta perawatan alami<br />
-	Perfusi jaringan baik	-	Anjurkan pasien menggunakan pakaian yang longgar<br />
-	Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering<br />
-	Monitor kulit akan adanya kemerahan<br />
-	Mandikan pasien dengan air hangat dan sabun</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Arief, M, Suproharta, Wahyu J.K. Wlewik S. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, ED : 3 jilid : 1. Djakarta : Media Aesculapius FKUI.</p>
<p>Santosa, Budi. 2005-2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Djakarta : Prima Medikal.</p>
<p>Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis.</p>
<p>Anonim. 2007. Skabies (kulit gatal bikn sebel). http://www.cakmoki86.wordpress.com</p>
<p>Anonim. 2008. Skabies. http://www.medlinuk.blogspot.com</p>
<p>Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Djakarta : EGC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/09/skabies.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 6/26 queries in 0.029 seconds using disk: basic
Object Caching 683/780 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 22:20:52 -->
