<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; gejala</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/gejala/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian II)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 02:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[aske dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep demiensia]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[askep pasien jiwa gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial pada penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[aspek psikososial penderita kanker servik]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan demensia]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan dengan masalah psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[contoh proposal keperawatan jiwa strategi pelaksanaan keperawatan pada pasien halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia pada keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[hal yang paling penting dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal gerontik psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan anak tentang kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan gerontik]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan jiwa 2010]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal keperawatan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit dalam]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal penyakit lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal perawat]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal stres lansia]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal tentang klasifikasi kanker rahim]]></category>
		<category><![CDATA[jurnal; kebutuhan psikososial]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[klasifikasi depresi]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan kesadaran kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang gangguan kesadaran dan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam merawat pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga dalam perawatan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran keluarga pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan lansia oleh keluaraga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam perawatan lansia penderita demensia yang tinggal di rumah. Hidup bersama dengan penderita demensia bukan hal yang mudah, tapi perlu kesiapan khusus baik secara mental maupun lingkungan sekitar. Pada tahap awal demensia penderita dapat secara aktif dilibatkan dalam proses perawatan dirinya. Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.</p>
<p>Keluarga tidak berarti harus membantu semua kebutuhan harian <span id="more-182"></span>Lansia, sehingga Lansia cenderung diam dan bergantung pada lingkungan. Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/01/masalah-keseha…da-lanjut-usia.htm">Lansia</a> agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman. Melakukan aktivitas sehari-hari secara rutin sebagaimana pada umumnya Lansia tanpa demensia dapat mengurangi depresi yang dialami Lansia penderita demensia.</p>
<p>Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia. Saling menguatkan sesama anggota keluarga dan selalu meluangkan waktu untuk diri sendiri beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-teman lain dapat menghindarkan stress yang dapat dialami oleh anggota keluarga yang merawat Lansia dengan demensia.</p>
<p>Lansia dengan demensia melakukan sesuatu yang kadang mereka sendiri tidak memahaminya. Tindakan tersebut dapat saja membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.</p>
<p>Referensi<br />
1. Grayson, C. (2004). All about Alzheimer. Retrieved on October 2006 from</p>
<p>2. Harvey, R. J., Robinson, M. S. &amp; Rossor, M. N. (2003). The prevalence and causes of dementia in people under the age of 65 years. Journal Neurosurg Psychiatry, 74: 1206-1209.</p>
<p>3. Mace, N. L. &amp; Rabins, P. V. (2006). The 36-hour day: a family guide to caring for people with Alzheimer disease, other dementias, and memory loss in later life (4th Ed.) Baltimore, USA: The Johns Hopkins University Press.</p>
<p>4. Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. (1998). Behavioral symptom of dementia. In Volicer, L., Hurley, A.C. (Eds), Hospice care for patients with advance progressive dementia. New York: Springer Publishing Company.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Demensia (Bagian I)</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 02:33:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[agitasi]]></category>
		<category><![CDATA[alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[askep alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan tingkah laku pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pemicu keluarga lansia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[definisi keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[demensia]]></category>
		<category><![CDATA[demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[demensia lewy body]]></category>
		<category><![CDATA[demensia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[demensian frontotemporal]]></category>
		<category><![CDATA[dementia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[dimensia adalah]]></category>
		<category><![CDATA[disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[etiologi demensia]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peran perawat pada penderita halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan memori]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keperawatan jiwa pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[konsep askep pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[laporan pendahuluan alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[latar belakang pemeriksaan fisik]]></category>
		<category><![CDATA[makalah demensia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah gangguan halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kesehatan cara berkomunikasi dalam perawatan dengan lansia]]></category>
		<category><![CDATA[makalah pada pasien alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penunjang demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan penyakit kejiwaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan status mental]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian demensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian keperawatan pada pasien depresi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit dimensia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit vaskular]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab disorientasi]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab,gejala dan pengertian dementia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan fisiologi kognitif pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[referat demensia alzheimer]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi dementia]]></category>
		<category><![CDATA[sikap empati dalam tahap pengkajian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). Demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive). <a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-ii.htm">Demensia</a> bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.</p>
<p>Sebagian besar peneliti dalam risetnya sepakat bahwa penyebab utama dari gejala demensia adalah penyakit Alzheimer, <span id="more-179"></span>penyakit vascular (pembuluh darah), demensia Lewy body, demensia frontotemporal dan sepuluh persen diantaranya disebabkan oleh penyakit lain. Lima puluh sampai enam puluh persen penyebab demensia adalah penyakit Alzheimer. Alzhaimer adalah kondisi dimana sel syaraf pada otak mati sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.</p>
<p>Hal yang menarik dari gejala penderita demensia adalah adannya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Penderita yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah Lansia dengan usia enam puluh lima tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri, mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang.</p>
<p>Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.</p>
<p>Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan. Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji dan mengenali gejala demensia. Mengkaji dan mendiagnosa demensia bukanlah hal yang mudah dan cepat, perlu waktu yang panjang sebelum memastikan seseorang positif menderita demensia. Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan penting yang harus dilakukan, mulai dari pengkajian latar belakang individu, pemeriksaan fisik, pengkajian syaraf, pengkajian position mental dan sebagai penunjang perlu dilakukan juga tes laboratorium.</p>
<p>Pada tahap lanjut demensia memunculkan perubahan tingkah laku yang semakin mengkhawatirkan, sehingga perlu sekali bagi keluarga memahami dengan baik perubahan tingkah laku yang dialami oleh Lansia penderita demensia. Pemahaman perubahan tingkah laku pada demensia dapat memunculkan sikap empati yang sangat dibutuhkan oleh para anggota keluarga yang harus dengan sabar merawat mereka. Perubahan tingkah laku (Behavioral symptom) yang dapat terjadi pada Lansia penderita demensia di antaranya adalah delusi, halusinasi, depresi, kerusakan fungsi tubuh, cemas, disorientasi spasial, ketidakmampuan melakukan tindakan yang berarti, tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, melawan, marah, agitasi, apatis, dan kabur dari tempat tinggal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/02/demensia-bagian-i.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Skizofrenia</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2010/01/skizofrenia.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2010/01/skizofrenia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 06:20:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[askep skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[delusi]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[gejala awal herpes zoster]]></category>
		<category><![CDATA[gejala awal schizophrenia]]></category>
		<category><![CDATA[genetik]]></category>
		<category><![CDATA[halusinasi]]></category>
		<category><![CDATA[keturunan]]></category>
		<category><![CDATA[obat]]></category>
		<category><![CDATA[obat skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[obat-obat skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan]]></category>
		<category><![CDATA[penanganan herpes zoster dan syaraf]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan schizophrenia]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit herpes genetis]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab]]></category>
		<category><![CDATA[penyembuhan]]></category>
		<category><![CDATA[penyembuhan schizophrenia]]></category>
		<category><![CDATA[penyembuhan skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[potensi]]></category>
		<category><![CDATA[schizophrenia obat]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia]]></category>
		<category><![CDATA[skizofrenia pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[terapi skizofrenia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor genetik tampaknya sangat dominan. Menurut penelitian, apabila saudara ayah-ibu menderita skizofrenia, maka anak memiliki potensi sebesar 3% untuk mengidap skizofrenia. Apabila ada salah satu saudara sekandung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Skizofrenia adalah penyakit yang diakibatkan gangguan susunan sel-sel syaraf pada otak manusia. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab. Faktor genetik tampaknya sangat dominan. Menurut penelitian, apabila saudara ayah-ibu menderita skizofrenia, maka anak memiliki potensi sebesar 3% untuk mengidap skizofrenia. Apabila ada salah satu saudara sekandung yang menderita, maka anak berpotensi menderita skizofrenia sebesar 5%-10%. Pada anak kembar Apabila tidak kembar identik, maka potensinya 5%-10%, sementara untuk anak kembar identik potensi menderita skizofrenia sebesar 25%-45%. Sedangkan jika penderita skizofrenia adalah salah satu dari kedua orang tua, maka anak berpotensi sebesar 15%-20%. Skizofrenia bisa menyerang laki-laki dan perempuan. <span id="more-134"></span>Kebanyakan perempuan yang mengidap penyakit ini adalah mereka yang berusia 20 hingga awal 30-an tahun. Sementara pada kelompok jenis kelamin laki-laki lebih dini, yakni akhir usia remaja hingga awal 20-an tahun.</p>
<p>Gejala penderita skizofrenia antara lain :<br />
Delusi<br />
<a href="http://www.lenterabiru.com/2010/02/persepsi-ilusi-dan-halusinasi.htm">Halusinasi</a><br />
Cara bicara / berpikir yang tidak teratur<br />
Perilaku negatif</p>
<p>Penanganan :<br />
Sikap menerima adalah awal penyembuhan<br />
Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya.<br />
Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh<br />
Perawatan yang dilakukan para ahli bertujuan mengurangi gejala skizofrenik dan kemungkinan gejala psychotic<br />
Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2010/01/skizofrenia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Listeriosis</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 03:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[bakteri]]></category>
		<category><![CDATA[cara pencegahan listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[cara pencegahan penyakit infeksi pada janin dan bayi baru lahir oleh bakteri listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[listeria monocytogenes]]></category>
		<category><![CDATA[listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[listeriosis pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[pancegahan listeriosis pada janin]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan infeksi oleh listeriosis pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan penyakit listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian tentang bakteri listeria monocytogenes]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab]]></category>
		<category><![CDATA[penyebaran]]></category>
		<category><![CDATA[radang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Deskripsi Infeksi Listeria disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Infeksi ini jarang terjadi, tetapi ketika hal itu terjadi paling sering menyerang ibu hamil pada trimester terakhir, bayi yang baru lahir, dan anak-anak dan orang dewasa yang kekebalan dilemahkan oleh penyakit seperti kanker atau HIV. Orang-orang yang telah memiliki berbagai jenis transplantasi juga lebih berisiko untuk terinfeksi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Deskripsi<br />
Infeksi Listeria disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Infeksi ini jarang terjadi, tetapi ketika hal itu terjadi paling sering menyerang ibu hamil pada trimester terakhir, bayi yang baru lahir, dan anak-anak dan orang dewasa yang kekebalan dilemahkan oleh penyakit seperti kanker atau HIV. Orang-orang yang telah memiliki berbagai jenis transplantasi juga lebih berisiko untuk terinfeksi.</p>
<p>Bakteri Listeria dapat ditularkan melalui tanah dan air. Sayuran dapat terkontaminasi dari tanah atau dari pupuk kandang yang digunakan sebagai pupuk. Hewan dapat juga membawa bakteri ini <span id="more-98"></span> meskipun tanpa terlihat sakit dan dapat mengkontaminasi makanan dari hewan seperti daging dan susu. Seseorang dapat terinfeksi listeria akibat makan makanan tertentu, seperti daging, keju, susu, ayam matang, hot dog mentah, kerang, dan kubis yang terkontaminasi. Namun banyak kasus infeksi, tidak diidentifikasi sumbernya.</p>
<p>Gejala<br />
Listeria dapat membuat gejala infeksi seperti demam, muntah, diare, kemalasan, kesulitan bernapas, dan tidak nafsu makan. Wanita hamil yang mengalami listeriosis mengalami gejala mirip flu, meskipun mereka berisiko terjadi kelahiran prematur, keguguran, atau bayi mati setelah dilahirkan. Orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah beresiko lebih tinggi untuk terserang penyakit lain yang lebih serius dari listeria, termasuk pneumonia, meningitis, dan sepsis.</p>
<p>Pengobatan<br />
Ketika bakteri menginfeksi ibu hamil maka pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi pada janin atau bayi yang dilahirkan. Antibiotik juga dapat diberikan kepada penderita dewasa atau anak-anak yang terinfeksi bakteri ini.</p>
<p>Pencegahan<br />
Pencegahan utama dapat dilakukan dengan memasak makanan secara higienis atau minimal memasak makanan sampai benar-benar matang. Pencegahan lain dapat dilakukan dengan cara mencuci sayuran mentah hingga bersih sebelum dimasak atau dikonsumsi langsung. ba</p>
<p>Sumber: medlineplus dan CDC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 9/16 queries in 0.008 seconds using disk: basic
Object Caching 857/861 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 22:45:03 -->
