<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Lentera Biru &#124; Blog Perawat &#187; infeksi</title>
	<atom:link href="http://www.lenterabiru.com/tag/infeksi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.lenterabiru.com</link>
	<description>Sebuah Catatan Seorang Nurse</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Feb 2012 07:41:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Hipertermia</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2011/04/hipertermia.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2011/04/hipertermia.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 10:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nanda NOC NIC]]></category>
		<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[demam]]></category>
		<category><![CDATA[implementasi]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi]]></category>
		<category><![CDATA[kompres hangat]]></category>
		<category><![CDATA[selimut tipis]]></category>
		<category><![CDATA[suhu tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Definisi : suhu tubuh naik diatas rentang normal Batasan Karakteristik: kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal serangan atau konvulsi (kejang) kulit kemerahan pertambahan RR takikardi saat disentuh tangan terasa hangat Faktor faktor yang berhubungan : -          penyakit/ trauma -          peningkatan metabolisme -          aktivitas yang berlebih -          pengaruh medikasi/anastesi -          ketidakmampuan/penurunan kemampuan untuk berkeringat -          terpapar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Definisi : </strong>suhu tubuh naik diatas rentang normal</p>
<p><strong>Batasan Karakteristik:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ul>
<li>kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal</li>
<li>serangan atau konvulsi (kejang)</li>
<li>kulit kemerahan</li>
<li>pertambahan RR</li>
<li>takikardi</li>
<li>saat disentuh tangan terasa hangat</li>
</ul>
<p><span id="more-374"></span></p>
<p><strong>Faktor faktor yang berhubungan :</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>-          penyakit/ trauma</p>
<p>-          peningkatan metabolisme</p>
<p>-          aktivitas yang berlebih</p>
<p>-          pengaruh medikasi/anastesi</p>
<p>-          ketidakmampuan/penurunan kemampuan untuk berkeringat</p>
<p>-          terpapar dilingkungan panas</p>
<p>-          dehidrasi</p>
<p>-          pakaian yang tidak tepat</p>
<p><strong>NOC </strong>: Thermoregulation</p>
<p><strong>Kriteria Hasil :</strong></p>
<p>-  Suhu tubuh dalam rentang normal</p>
<p>-  Nadi dan RR dalam rentang normal</p>
<p>-  Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman</p>
<p><strong>NIC :</strong></p>
<p><strong>Fever Treatment</strong></p>
<ul>
<li>Monitor suhu sesering mungkin</li>
<li>Monitor IWL</li>
<li>Monitor warna dan suhu kulit</li>
<li>Monitor tekanan darah, nadi dan RR</li>
<li>Monitor penurunan tingkat kesadaran</li>
<li>Monitor WBC, Hb, dan Hct</li>
<li>Monitor intake dan output</li>
<li>Berikan anti piretik</li>
<li>Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam</li>
<li>Selimuti pasien</li>
<li>Lakukan tapid sponge</li>
<li>Berikan cairan intravena</li>
<li>Kompres pasien pada lipat paha dan aksila</li>
<li>Tingkatkan sirkulasi udara</li>
<li>Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil</li>
</ul>
<p><strong>Temperature regulation</strong></p>
<ul>
<li>Monitor suhu minimal tiap 2 jam</li>
<li>Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu</li>
<li>Monitor TD, nadi, dan RR</li>
<li>Monitor warna dan suhu kulit</li>
<li>Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi</li>
<li>Tingkatkan intake cairan dan nutrisi</li>
<li>Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh</li>
<li>Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas</li>
<li>Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek negatif dari kedinginan</li>
<li>Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan emergency yang diperlukan</li>
<li>Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan</li>
<li>Berikan anti piretik jika perlu</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Vital sign Monitoring</strong></p>
<ul>
<li>Monitor TD, nadi, suhu, dan RR</li>
<li>Catat      adanya fluktuasi tekanan darah</li>
<li>Monitor      VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri</li>
<li>Auskultasi TD pada kedua lengan dan      bandingkan</li>
<li>Monitor      TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas</li>
<li>Monitor      kualitas dari nadi</li>
<li>Monitor      frekuensi dan irama pernapasan</li>
<li>Monitor      suara paru</li>
<li>Monitor      pola pernapasan abnormal</li>
<li>Monitor      suhu, warna, dan kelembaban kulit</li>
<li>Monitor      sianosis perifer</li>
<li>Monitor adanya cushing triad (tekanan      nadi yang melebar, bradikardi, peningkatan sistolik)</li>
<li>Identifikasi penyebab dari perubahan      vital sign</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2011/04/hipertermia.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Listeriosis</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 03:28:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[bakteri]]></category>
		<category><![CDATA[cara pencegahan listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[cara pencegahan penyakit infeksi pada janin dan bayi baru lahir oleh bakteri listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[gejala]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[listeria monocytogenes]]></category>
		<category><![CDATA[listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[listeriosis pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[pancegahan listeriosis pada janin]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan infeksi oleh listeriosis pada bayi baru lahir]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan penyakit listeriosis]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian tentang bakteri listeria monocytogenes]]></category>
		<category><![CDATA[pengobatan]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab]]></category>
		<category><![CDATA[penyebaran]]></category>
		<category><![CDATA[radang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Deskripsi Infeksi Listeria disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Infeksi ini jarang terjadi, tetapi ketika hal itu terjadi paling sering menyerang ibu hamil pada trimester terakhir, bayi yang baru lahir, dan anak-anak dan orang dewasa yang kekebalan dilemahkan oleh penyakit seperti kanker atau HIV. Orang-orang yang telah memiliki berbagai jenis transplantasi juga lebih berisiko untuk terinfeksi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Deskripsi<br />
Infeksi Listeria disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Infeksi ini jarang terjadi, tetapi ketika hal itu terjadi paling sering menyerang ibu hamil pada trimester terakhir, bayi yang baru lahir, dan anak-anak dan orang dewasa yang kekebalan dilemahkan oleh penyakit seperti kanker atau HIV. Orang-orang yang telah memiliki berbagai jenis transplantasi juga lebih berisiko untuk terinfeksi.</p>
<p>Bakteri Listeria dapat ditularkan melalui tanah dan air. Sayuran dapat terkontaminasi dari tanah atau dari pupuk kandang yang digunakan sebagai pupuk. Hewan dapat juga membawa bakteri ini <span id="more-98"></span> meskipun tanpa terlihat sakit dan dapat mengkontaminasi makanan dari hewan seperti daging dan susu. Seseorang dapat terinfeksi listeria akibat makan makanan tertentu, seperti daging, keju, susu, ayam matang, hot dog mentah, kerang, dan kubis yang terkontaminasi. Namun banyak kasus infeksi, tidak diidentifikasi sumbernya.</p>
<p>Gejala<br />
Listeria dapat membuat gejala infeksi seperti demam, muntah, diare, kemalasan, kesulitan bernapas, dan tidak nafsu makan. Wanita hamil yang mengalami listeriosis mengalami gejala mirip flu, meskipun mereka berisiko terjadi kelahiran prematur, keguguran, atau bayi mati setelah dilahirkan. Orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah beresiko lebih tinggi untuk terserang penyakit lain yang lebih serius dari listeria, termasuk pneumonia, meningitis, dan sepsis.</p>
<p>Pengobatan<br />
Ketika bakteri menginfeksi ibu hamil maka pemberian antibiotik diperlukan untuk mencegah infeksi pada janin atau bayi yang dilahirkan. Antibiotik juga dapat diberikan kepada penderita dewasa atau anak-anak yang terinfeksi bakteri ini.</p>
<p>Pencegahan<br />
Pencegahan utama dapat dilakukan dengan memasak makanan secara higienis atau minimal memasak makanan sampai benar-benar matang. Pencegahan lain dapat dilakukan dengan cara mencuci sayuran mentah hingga bersih sebelum dimasak atau dikonsumsi langsung. ba</p>
<p>Sumber: medlineplus dan CDC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/10/listeriosis.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tetanus</title>
		<link>http://www.lenterabiru.com/2009/09/tetanus.htm</link>
		<comments>http://www.lenterabiru.com/2009/09/tetanus.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 03:38:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nenk</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asuhan Keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[Info Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[anti tetanus pada wanita hamil]]></category>
		<category><![CDATA[arti penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[askep gangguan pemenuhan sehari hari]]></category>
		<category><![CDATA[askep imunisasi tetanus pada ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[askep infeksi integumen]]></category>
		<category><![CDATA[askep integumen pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[askep luka tembak]]></category>
		<category><![CDATA[askep pada anak dengan aspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[askep tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan aspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan kebutuhan nutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada gangguan sistem saraf]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada pasien cemas]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem saraf]]></category>
		<category><![CDATA[asuhan keperwatan pada bayi kejang]]></category>
		<category><![CDATA[cara mencegah penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan personal hygiene]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosa keperawatn resiko aspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosa klien dehidrasi karena luka]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosa pada penyakit sistem perkemihan]]></category>
		<category><![CDATA[diagnosis fisik pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan peranan integumen]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi dan tujuan sistem saraf]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi penisilin prokain]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi tongue spatel]]></category>
		<category><![CDATA[gambaran penyerangan saraf pada tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[gambaran tingkat pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sistem saraf]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dan tanda-tanda tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[gejala dan tanda-tanda tetanus pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan antara sistem reproduksi dengan sistem pernafasan]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan personel hygiene dan stres]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sistem perkemihan dengan sistem reproduksi wanita]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan sistem saraf dengan kontraksi otot]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan tingkat pekerjaan dan penyakit diabetes mellitus]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi pada sistem saraf pusat]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi sistem saraf pusat]]></category>
		<category><![CDATA[infeksi susunan saraf pusat : tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[integumen saat hamil]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi cemas]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi ke keluarga yang cemas]]></category>
		<category><![CDATA[intervensi keperawatan kasus edema cerebral]]></category>
		<category><![CDATA[karat]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan tiap fase perkembangan]]></category>
		<category><![CDATA[kehamilan dengan penyakit sistem perkemihan]]></category>
		<category><![CDATA[makalah kebutuhan rasional]]></category>
		<category><![CDATA[makalah keperawatan pasien dengan gangguan kulit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah patofisiologi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit sistem integumen]]></category>
		<category><![CDATA[makalah penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[makalah peranan agama dalam perkembangan keperawatan]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang penyakit pada sistem reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tentang penyakit-penyakit reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[makalah tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ganguan menelan]]></category>
		<category><![CDATA[paku]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi dan pengkajian sistem imun]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi infeksi sistem saraf pusat]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi luka bakar pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi peranan penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[patofisiologi tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[patologi tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian anti tetanus pada ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[pemberian anti tetanus serum]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan diagnostik pada gangguan pencernaan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan diagnostik pada gangguan sistim pernapasan]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan fisik integumen pada dehidrasi]]></category>
		<category><![CDATA[pemeriksaan tetanus dalam darah]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan ngt]]></category>
		<category><![CDATA[pencegahan tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[pengaruh sistem endokrin terhadap sistem integumen]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian dan fungsi mulut]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian pemenuhan kebutuhan secara out put]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[pengertian perawatan anak]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan ibu hamil tentang imunisasi tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[pengetahuan ibu tentang imunisasi tt]]></category>
		<category><![CDATA[pengisapan lendir]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian asuhan keperawatan dengan gangguan sistem endokrin]]></category>
		<category><![CDATA[pengkajian fisik untuk dehidrasi]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan materi tentang penyakit yang berkaitan dengan sistem reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan materi tentang penyakit yang berkaitan dengan sistim reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit kejang saat tidur]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit pada integument]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit pada sistem lidah]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit penyakit sistem integumen]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit sistem integumen]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit tetanus gejala dan pencegahannya]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit yang berhubungan dengan integumen]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit yang berhubungan dengan peredaran darah]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit yang berhubungan dengan sistem endokrin]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit yang berhubungan dengan sistem pencernaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit, penyebab, dan cara pencegahannya pada tulang dan otot]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit/pengaruh sistem pencernaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab pada tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab penyakit pada sisitem koordinasi]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam memenuhi dan monitoring status cairan klien]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi pasien post operasi dirs]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat dalam pemenuhan nutrisi pada lansia]]></category>
		<category><![CDATA[peran perawat untuk pemeriksaan darah]]></category>
		<category><![CDATA[peranan tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[proses terjadinya tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[rencana terapi pada askep]]></category>
		<category><![CDATA[semua penyakit yang berhubungan dengan sistem reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[sistem endokrin di dalam orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[start]]></category>
		<category><![CDATA[suntikan tt untuk luka]]></category>
		<category><![CDATA[tahap tahap tentang penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tahap-tahap penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tahap-tahap perkembangan proses sensorik motorik]]></category>
		<category><![CDATA[tanda - tanda tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tanda dan gejala dari penyakit tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tanda infeksi tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tanda tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tanda2 tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[terapi oksigen pada bayi dan orang tua]]></category>
		<category><![CDATA[terapi penisilin prokain pada tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[terapi terbaru tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus gangguan pernapasan]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus pada anak]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus pada anak.referat]]></category>
		<category><![CDATA[tetanus terjadi pada sistem]]></category>
		<category><![CDATA[timbul biru di seluruh tubuh merupakan tanda penyakit apa??]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan intake dan output]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan pemberian nutrisi lansia]]></category>
		<category><![CDATA[tusuk]]></category>
		<category><![CDATA[web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.lenterabiru.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[A. Defenisi Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanisfestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot massater dan otot-otot rangka. B. Etiologi Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Defenisi<br />
Penyakit tetanus adalah penyakit infeksi yang diakibatkan toksin kuman Clostridium tetani, bermanisfestasi dengan kejang otot secara proksimal dan diikuti kekakuan otot seluruh badan. Kekakuan tonus otot massater dan otot-otot rangka.</p>
<p>B. Etiologi<br />
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x 0,4 – 0,5 milimikron yang berspora termasuk golongan gram positif dan hidupnya anaerob. Kuman mengeluarkan toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanuspasmin) mula-mula akan menyebabkan kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan, pada suhu 65 0 C akan hancur dalam lima menit. Disamping itu dikenal pula tetanolysin yang bersifat hemolisis, yang peranannya kurang berarti dalam proses penyakit.</p>
<p>C. Patofisiologi<br />
Penyakit tetanus terjadi karena adanya luka pada tubuh seperti luka tertusuk paku, <span id="more-68"></span>pecahan kaca, atau kaleng, luka tembak, luka bakar, luka yang kototr dan pada bayi dapat melalui tali pusat. Organisme multipel membentuk 2 toksin yaitu tetanuspasmin yang merupakan toksin kuat dan atau neurotropik yang dapat menyebabkan ketegangan dan spasme otot, dan mempngaruhi sistem saraf pusat. Eksotoksin yang dihasilkan akan mencapai pada sistem saraf pusat dengan melewati akson neuron atau sistem vaskuler. Kuman ini menjadi terikat pada satu saraf atau jaringan saraf dan tidak dapat lagi dinetralkan oleh antitoksin spesifik. Namun toksin yang bebas dalam peredaran darah sangat mudah dinetralkan oleh aritititoksin. Hipotesa cara absorbsi dan bekerjanya toksin adalah pertama toksin diabsorbsi pada ujung saraf motorik dan melalui aksis silindrik dibawah ke korno anterior susunan saraf pusat. Kedua, toksin diabsorbsi oleh susunan limfatik, masuk ke dalam sirkulasi darah arteri kemudian masuk ke dalam susunan saraf pusat. Toksin bereaksi pada myoneural junction yang menghasilkan otot-otot menjadi kejang dan mudah sekali terangsang. Masa inkubasi 2 hari sampai 2 bulan dan rata-rata 10 hari .</p>
<p>D. Gejala klinis<br />
Timbulnya gejala klinis biasanya mendadak, didahului dengan ketgangan otot terutama pada rahang dan leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus) karena spsme otot massater. Kejang otot ini akan berlanjut ke kuduk (opistotonus) dinding perut dan sepanjang tulang belakang. Bila serangan kejang tonik sedang berlangsung serimng tampak risus sardonukus karena spsme otot muka dengan gambaran alsi tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat pada gigi. Gambaran umum yang khas pada tetanus adalah berupa badan kaku dengan epistotonus, tungkai dalam ekstrensi lengan kaku dan tangan mengapal biasanya kesadaran tetap baik. Serangan timbul paroksimal, dapat dicetus oleh rangsangan suara, cahaya maupun sentuhan, akan tetapi dapat pula timbul spontan. Karena kontraksi otot sangat kuat dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak). Kadang dijumpai demam yang ringan dan biasanya pada stadium akhir</p>
<p>E. Pemeriksaan diagnostik<br />
• Pemeriksaan fisik : adanya luka dan ketegangan otot yang khas terutama pada rahang<br />
• Pemeriksaan darah leukosit 8.000-12.000 m/L<br />
F. Komplikasi<br />
• Bronkopneumoni<br />
• Asfiksia dan sianosis<br />
G. Pengobatan<br />
• Anti Toksin : ATS 500 U IM dilanjutkan dengan dosis harian 500-1000 U<br />
• Anti kejang : Diazepam 0,5-1,0 mg/kg BB / 4 wad IM Efek samping stupor, koma<br />
• Antibiotik : Pemberian penisilin prokain 1,2 juta U/hari</p>
<p>H. Pencegahan<br />
Pencegahan penyakit tetanus meliputi :<br />
1. Anak mendapatkan imunisasi DPT diusia 3-11 Bulan<br />
2. Ibu hamil mendapatkan suntikan TT minimal 2 X<br />
3. Pencegahan terjadinya luka &amp; merawat luka secara adekuat<br />
4. Pemberian anti tetanus serum</p>
<p>I. Proses Keperawatan<br />
1. Pengkajian<br />
a. Identitas pasien : nama, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian, diagnosa medik, rencana terapi<br />
b. Identitas orang tua:<br />
• Ayah : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.<br />
• Ibu : nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat<br />
c. Identitas sudara kandung<br />
2. Keluhan utama/alasan masuk RS.<br />
3. Riwayat Kesehatan<br />
a. Riwayat kesehatan sekarang<br />
b. Riwayat kesehatan masa lalu<br />
§ Ante natal care<br />
§ Natal<br />
§ Post natal care<br />
c. Riwayat kesehatan keluarga<br />
4. Riwayat imunisasi<br />
5. Riwayat tumbuh kembang<br />
§ Pertumbuhan fisik<br />
§ Perkembangan tiap tahap<br />
6. Riwayat Nutrisi<br />
§ Pemberin asi<br />
§ Susu Formula<br />
§ Pemberian makanan tambahan<br />
§ Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini<br />
7. Riwayat Psikososial<br />
8. Riwayat Spiritual<br />
9. Reaksi Hospitalisasi<br />
§ Pemahaman keluarga tentang sakit yang rawat nginap<br />
10. Aktifitas sehari-hari<br />
§ Nutrisi<br />
§ Cairan<br />
§ Eliminasi BAB/BAK<br />
§ Istirahat tidur<br />
§ Olahraga<br />
§ Personal Hygiene<br />
§ Aktifitas/mobilitas fisik<br />
§ Rekreasi<br />
11. Pemeriksaan Fisik<br />
§ Keadaan umum klien<br />
§ Tanda-tanda vital<br />
§ Antropometri<br />
§ Sistem pernafasan<br />
§ Sistem Cardio Vaskuler<br />
§ Sistem Pencernaan<br />
§ Sistem Indra<br />
§ Sistem muskulo skeletal<br />
§ Sistem integumen<br />
§ Sistem Endokrin<br />
§ Sistem perkemihan<br />
§ Sistem reproduksi<br />
§ Sistem imun<br />
§ Sistem saraf : Fungsi cerebral, fungsi kranial, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi cerebelum, refleks, iritasi meningen<br />
12. Pemeriksaan tingkat perkembangan<br />
§ 0 – 6 tahun dengan menggunakan DDST (motorik kasar, motorik halus, bahasa, individualized sosial)<br />
§ 6 tahun keatas (perkembangan kognitif, Psikoseksual, Psikososial)<br />
13. Tes Diagnostik<br />
14. Terapi</p>
<p>d. Diagnosa Keperawatan<br />
? Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekretsi atau produksi mukus<br />
? Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat<br />
? Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut<br />
? Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.<br />
? Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang<br />
? Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan aktifitas tatanuslysin<br />
? Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang<br />
? Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit berhubungan dengan perubahan position kesehatan, penata laksanaan gangguan kejang<br />
? Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang<br />
Rencana Keperawatan dan Rasional<br />
C Dx. 1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan meningkatnya sekretsi atau produksi mukus.<br />
Tujuan : Anak memperlihatkan kepatenan jalan nafas dengan kriteria jalan nafas bersih, tidak ada sekresi<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
a. Kaji position pernafasan, frekwensi, irama, setiap 2 – 4 jam</p>
<p>b. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati dan pasti bila ada penumpukan sekret<br />
c. Gunakan sudip lidah saat kejang</p>
<p>d. Miringkan ke samping untuk drainage</p>
<p>e. Observasi oksigen sesuai program</p>
<p>f. Pemberian sedativa Diazepam drip 10 Amp (hari pertama dan setiap hari dikurangi 1 amp)<br />
g. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut</p>
<p>§ Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan pappa tak simetris sering terjadi karena adanya sekret<br />
§ Menurunkan resiko aspirasi atau aspeksia dan osbtruksi</p>
<p>§ Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan<br />
§ Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas</p>
<p>§ Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia<br />
§ Mengurangi rangsangan kejang</p>
<p>§ Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia</p>
<p>C Dx. 2. Defisit velume cairan berhubungan dengan intake cairan tidak adekuat<br />
Tujuan : Anak tidak memperlihatkan kekurangan velume cairan yang dengan kriteria:<br />
§ Membran mukosa lembab, Turgor kulit baik<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Kaji intake dan out place setiap 24 jam</p>
<p>2. Kaji tanda-tanda dehidrasi, membran mukosa, dan turgor kulit setiap 24 jam<br />
3. Berikan dan pertahankan intake oral dan parenteral sesuai indikasi ( infus 12 tts/m, NGT 40 cc/4 jam) dan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasien<br />
4. Monitor berat jenis urine dan pengeluarannya</p>
<p>5. Pertahankan kepatenan NGT</p>
<p>@ Memberikan informasi tentang position cairan /volume sirkulasi dan kebutuhan penggantian<br />
@ Indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan hidrasi seluler<br />
@ Mempertahankan kebutuhan cairan tubuh</p>
<p>@ Penurunan keluaran urine pekat dan peningkatan berat jenis urine diduga dehidrasi/ peningkatan kebutuhan cairan<br />
@ Mempertahankan intake nutrisi untuk kebutuhan tubuh</p>
<p>C Dx. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketegangan dan spasme otot mastikatoris , kesukaran menelan dan membuka mulut<br />
Tujuan : Status nutrisi anak terpenuhi dengan kriteria:<br />
@ Berat badan sesuai usia<br />
@ makanan 90 % dapat dikonsumsi<br />
@ Jenis makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan gizi anak (protein, karbohidrat, lemak dan viotamin seimbang</p>
<p>Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan</p>
<p>2. Kaji bising usus bila perlu, dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang</p>
<p>3. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein<br />
4. Timbang berat badan sesuai protokol</p>
<p>@ Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh<br />
@ Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan obsrobsi air.<br />
@ Suplay Kalori dan accelerator yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh<br />
@ Mengevalusai kefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrisi</p>
<p>C Dx. 4. Resiko aspirasi berhubungan dengan meningkatknya sekresi, kesukaran menelan, dan spasme otot faring.<br />
Tujuan : Tidak terjadi aspirasi dengan kriteria:<br />
- Jalan nafas bersih dan tidak ada sekret<br />
- Pernafasan teratur<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Kaji position pernafasan setiap 2-4 jam</p>
<p>2. Lakukan pengisapan lendir dengan hati-hati<br />
3. Gunakan sudip lidah saat kejang</p>
<p>4. Miringkan ke samping untuk drainage</p>
<p>5. Pemberian oksigen 0,5 Liter</p>
<p>6. Pemberian sedativa sesuai program<br />
7. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut</p>
<p>@ Takipnu, pernafasan dangkal dan gerakan pappa tak simetris sering terjadi karena adanya sekret<br />
@ Menurunkan resiko aspirasi atau aspiksia dan osbtruksi<br />
@ Menghindari tergigitnya lidah dan memberi sokongan pernafasan jika diperlukan<br />
@ Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas<br />
@ Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia<br />
@ Mengurangi rangsangan kejang<br />
@ Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia</p>
<p>C Dx. 5. Resiko injuri berhubungan dengan aktifitas kejang<br />
Tujuan : Cedera tidak terjadi dengan kriteria<br />
C Klien tidak ada cedera<br />
C Tidur dengan tempat tidur yang terpasang pengaman<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Identifikasi dan hindari faktor pencetus</p>
<p>2. Tempatkan pasien pada tempat tidur pada pasien yang memakai pengaman<br />
3. Sediakan disamping tempat tidur tongue spatel</p>
<p>4. Lindungi pasien pada saat kejang</p>
<p>5. Catat penyebab mulai terjadinya kejang</p>
<p>@ Menghindari kemungkinan terjadinya cedera akibat dari stimulus kejang<br />
@ Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi kejang<br />
@ Antisipasi dini pertolongan kejang akan mengurangi resiko yang dapat memperberat kondisi klien<br />
@ Mencegah terjadinya benturan/trauma yang memungkinkan terjadinya cedera fisik<br />
@ Pendokumentasian yang akurat, memudah-kan pengontrolan dan identifikasi kejang</p>
<p>C Dx. 6. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tetanus lysin , pembatasan aktifitas (immobilisasi)<br />
Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit, dengan kriteria :<br />
C Tidak ada kemerahan , lesi dan edema<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Observai adanya kemerahan pada kulit</p>
<p>2. Rubah posisi secara teratur</p>
<p>3. Anjurkan kepada orang tua pasien untuk memakaikan katun yang longgar<br />
4. Pantau masukan cairan, hidrasi kulit dan membran mukosa</p>
<p>5. Pertahankan hygiene kulit dengan mengeringkan dan melakukan masagge dengan lotion<br />
@ Kemerahan menandakan adanya area sirkulasi yang buruk dan kerusakan yang dapat menimbulkan dikubitus<br />
@ Mengurangi stres pada titik tekanan sehingga meningkatkan aliran darah ke jaringan yang mempercepat proses kesembuhan<br />
@ Mencegah iritasi kulti secara langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit<br />
@ Mendeteksi adanya dehidrasi/overhidrasi yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan<br />
@ Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat menjadi barier infeksi dan masagge dapat meningkatkan sirkulasi kulit</p>
<p>@ Dx. 7. Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang<br />
Tujuan : Kebutuhan aktifitas sehari-hari/perawatan diri terpenuhi, dengan kriteria<br />
@ Tempat tidur bersih,Tubuh anak bersih,Tidak ada iritasi pada kulit, BAB/BAK dapat dibantu.</p>
<p>Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Pemenuhan kebutuhan aktifitas sehari-hari</p>
<p>2. Bantu anak dalam memenuhi kebutuhan aktifitas , BAB/BAK, membersihkan tempat tidur dan kebersihan diri<br />
3. Berikan makanan perparenteral<br />
4. Libatkan orang tua dalam perawatan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.<br />
C Kebutuhan sehari-hari terpenuhi secara adekuat dapat membantu proses kesembuhan<br />
C Memenuhi kebutuhan nutrisi klien</p>
<p>C Orang tua mandiri dalam merawat anak di rumah sakit</p>
<p>C Dx. 8. Cemas berhubungan dengan kemungkinan injuri selama kejang<br />
Tujuan : Orang tua menunjukan rasa cemas berkurang dan dapat mengekspresikan perasaan tentang kondisi anak yang dialami, dengan kriteria : Orang tua klien tidak cemas dan gelisah.<br />
Intervensi<br />
Rasional<br />
1. Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi pada anak<br />
2. Ajarkan orang tua untuk mengekspresikan perasaannya tentang kondisi anaknya</p>
<p>3. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan</p>
<p>4. Gunakan komunikasi dan sentuhan terapetik<br />
C Pengetahuan tentang aktifitas kejang yang memadai dapat mengurangi kecemasan<br />
C Ekspresi/ eksploitasi perasaan orang tua secara verbal dapat membantu mengetahui tingkat kecemasan<br />
C Pengetahuan tentang prosedur tindakan akan membantu menurunkan / menghilangkan kecemasan<br />
C Memberikan ketenangan dan memenuhi rasa kenyamanan bagi keluarga</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.lenterabiru.com/2009/09/tetanus.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 5/21 queries in 0.474 seconds using disk: basic
Object Caching 900/938 objects using disk: basic

Served from: www.lenterabiru.com @ 2012-02-09 22:50:06 -->
